Perjuangan untuk Kembali Pulih

Tidak pernah terpikir olehku bahwa status KTP-ku akan menjadi janda cerai, KDRT pula. Tepatnya KDRT verbal, financial abuse, dan psychological abuse. Setelah menjalani pernikahan selama 6,5 tahun dan pisah rumah selama 6 bulan, aku resmi berpisah dengan seorang anak perempuan di akhir tahun 2019. Usai perceraian, aku pikir aku akan langsung merasa terbebas dari segala penderitaan dan menjadi bahagia. Ternyata banyak PR yang perlu aku selesaikan. Perceraian ini perlahan membangunkanku tentang berbagai trauma dan emosi yang seringkali kupendam.


Aku merasa sebagai orang paling bodoh sedunia. Gelar S1 dan S2-ku dari Universitas Negeri ternama ternyata tidak membantuku untuk dapat memilih pasangan yang tepat. Kritikan-kritikan “kecil” dan hinaan-hinaan yang seringkali dibalut dengan nada bercanda seringkali aku terima secara rutin dan konsisten selama bertahun-tahun dari mantan suami. Perlahan tapi pasti, hal tersebut meruntuhkan rasa percaya diriku. Aku merasa tidak berharga dan kehilangan diriku sendiri. Aku merasa tidak becus sebagai seorang ibu, istri, guru, bahkan sebagai seorang manusia.


Kurangnya dukungan emosional dari orang-orang sekitar, membuatkan memutuskan untuk membuat benteng yang tinggi dan mengisolasi diri agar tidak ada yang bisa menyakitiku lagi. Sudah cukup aku menjadi orang baik yang dimanfaatkan kepercayaan dan kepolosannya. Aku tidak lagi melihat dunia dengan kacamata yang sama.


Tidak mudah bagiku untuk dapat kembali percaya kepada orang lain. Aku menenggelamkan lukaku dalam berbagai kegiatan. Aku menyelesaikan pendidikan Diploma Montessori, mengikuti pelatihan Millionaire Mindset yang diadakan oleh Bossman, mengikut pelatihan hipnoterapi, dan pelatihan menulis. Aku ingin berlari dari luka yang ada, namun luka itu seolah tidak terima untuk diabaikan karena ada saat-saat dimana aku mudah untuk tertrigger dan menjadi reaktif. Rasa hampa, kesedihan, marah, kecewa, bercampur menjadi satu.

Meski terkadang terasa tidak nyaman, seperti kecemasan yang sering menemani. Perlahan-lahan aku mencoba untuk dapat bangkit kembali dengan berbagai cara. Aku membaca buku-buku yang memotivasi, rutin ke psikolog, dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh psikolog. Salah satu tugas dari psikolog adalah untuk merasakan perasaan yang ada, kemudian belajar untuk mengolah perasaan itu.

Dengan sekuat tenaga, aku “memaksa” diri untuk merasakan luka. Belum pernah aku merasakan rasa sakit yang demikian hebatnya. Proses merasakan perasaan itu menguak luka-luka lain. Aku mengingat semua hinaan, kata-kata mengecilkan, dan bully yang aku terima sejak kecil; baik di rumah, sekolah, kampus, dan di tempat kerja. Pelan-pelan aku juga “memaksa” diri untuk berlatih memaafkan. Aku ingin memaafkan untuk kebahagiaanku sendiri. Perlahan menata diri kembali dan aku mulai belajar untuk merasa diri berharga hanya karena aku ada di dunia. Aku belajar untuk mengingatkan diriku bahwa dunia ini aman. Dan aku punya Tuhan yang tidak pernah tidur dan melindungiku dengan cara-Nya sendiri.


Aku “memaksa” diri untuk mengubah pikiran dan sikap negatif menjadi lebih positif. Belajar untuk menyadari bahwa dunia ini sebenarnya masih indah. Aku hanya perlu memilih terangnya cahaya daripada kegelapan lubang depresi. Membagikan kisahku melalui tulisan dan konten media sosial, serta bergabung dengan komunitas-komunitas yang ada, serta perlahan mulai bersosialisasi kembali, membantuku untuk perlahan kembali dapat menata hidup dan melepas rasa malu atas KDRT yang menimpaku. Mimpiku selanjutnya adalah menerbitkan buku dan memfilmkannya, menjadi pembicara, dan berkeliling dunia.

Akhir kata, semoga ceritaku dapat membantu kamu yang sedang atau pernah mengalami toxic relationship. Sadari bahwa kamu makhluk berharga yang diciptakan Tuhan. Kamu berhak untuk bahagia dan sukses.

The abuse is not about you, it is about the projection of the abuser. It is never your fault.

Yakinlah bahwa Tuhan akan memberikah hadiah yang sangat indah setelah apa yang kamu alami. Dalam waktu dekat, kamu akan mulai dapat melepas kepercayaan terhadap label-label negatif yang abuser sematkan padamu. Kamu mulai dapat mengenali siapa diri kamu sebenarnya. Menyadari potensi besar yang kamu miliki. Kamu akan mulai dapat percaya pada dirimu sendiri. Kamu mulai dapat mendengarkan kata hatimu dan bergerak untuk menjemput impianmu. Kamu mulai dapat melihat keindahan dunia kembali. Menyadari bahwa kamu makhluk cantik yang indah, bahwa kamu pantas untuk dicintai. Dan kamu memiliki kekuatan untuk melindungi diri kamu sendiri dan membangun kembali kehidupan yang bahagia di atas puing-puing yang ada. (Karlina Yulianti)