Perempuan dalam Cermin

Malam itu aku berkaca pada bayangan cermin yang retak di samping lemari. Ada wujud seorang perempuan dengan wajah berjerawat, rambut pendek yang asal dipotong seperti Willy Wonka, dan raga kurus tak berisi lemak. Aku melongok lagi jauh ke dalamnya. Ada sukma seorang perempuan dengan goresan hati yang menganga lebar, dengan tambalan kain perca yang berusaha menutupi luka dengan benang suka. Ah, itu aku.


Malam itu ketika bulan menggantung di atas pohon mangga, di kasur milik Ibu, aku menuliskan sebuah surat untuk diriku di masa depan yang semoga bisa aku hadir di dalamnya. Surat itu kira-kira berisi begini:

1:11
8 Mei 2020

Aku duduk bersandar pada tulang kasur di kamar orang tuaku. Malam ini, aku belajar menjadi manusia. Jika kamu membaca ini lagi, aku akan bilang bahwa kamu hebat. Kamu sudah bertahan sejauh ini. Untuk setiap luka yang telah kamu terima selama hidupmu di dunia; aku minta maaf. Terkadang dunia tidak berpihak pada kita dan lagi-lagi kita harus belajar menerimanya.


Jadikan kesalahan dan lukamu itu pelajaran untuk setiap langkah yang akan kamu pijaki nanti. Kesalahanmu adalah vaksin yang bisa mencegah hal buruk terulang, dan kamu akan bisa hidup lebih baik. Berjanjilah bahwa kamu akan membuang hal-hal buruk di hidupmu. Kamu tidak harus melupakannya. Jangan lupakan.

Malam ini, aku coba membaca ulang dan mengingat apa saja yang telah kualami. Aku mencoba mengingat rasa itu lagi. Kala lidah laki-laki itu lontarkan apa yang ada dalam kepalanya. Kala laki-laki itu telanjangkan ego-nya dan aku dipaksa memperkosa akal sehat kepalaku sendiri. Oh, aku merasa mati lagi hari itu. Tahun sebelumnya aku sudah mati, dan dia membunuhku lagi malam itu. Delapan Mei. Hari bulan sabit merah. Bulannya menggantung di atas langit, tapi ujung sabitnya menghujamku tepat di kepala. Merah memenuhi pandanganku.


Setelah lewati satu musim hujan yang basahnya suka singgah di ceruk leherku, aku berusaha paham tiap kalimat yang kutuliskan dalam surat itu. Bayangan tentang gelap yang selalu mampir di benakku adalah hal yang selalu aku sangkal. Laki-laki itu, yang pernah bangga kusebut orang yang kucinta, punya segala cara membahagiakan aku dengan cara yang menurutnya benar. Lidahnya mungkin selalu diasah dan ditempa untuk jadi tajam. Dan aku terima cara itu, terima banyak perkataan itu. Memaklumkan kebiasaannya dengan alasan bahwa ia tumbuh di lingkungan yang tidak sempurna.

Kita tidak sempurna, maka aku dan dia punya satu sama lain untuk menyempurnakannya. Nyatanya, dia menuju sempurna dan aku rusak hingga berceceran bersama pecahan cermin. Aku coba perbaiki dengan sobekan lembar buku, dengan benang masa kecil, dengan kanvas periode biru, dengan melodi-melodi Lord Huron. Apa pun untuk menyatukan pecahan itu menjadi cermin utuh yang selalu menggantung di samping lemari. Tapi garis pecahannya tetap terlihat, mengaburkan refleksi ragaku menjadi tiga bayangan semu.

Ketika sadar, aku melihat secercah harapan untuk lepas, dengan bayaran hatiku yang mengeras. Aku ingin mulai meninggalkan gelap itu, tetapi di satu sisi aku ingin turut menyelamatkannya.

Tetapi, lagi-lagi aku sadar bahwa bukan tanggung jawab kita untuk menarik seseorang keluar dari cangkangnya.

Jadi aku egois dan menarik diriku keluar seorang diri, membuka tirai mahligai seolah itu kediamanku, lalu duduk di singgasana dan memetik buah persik di sore hari. Walaupun belum seutuhnya pulih, aku masih bisa menumbuhkan bulu-bulu di punggungku untuk terbang menuju bebas yang aku ingin. Yang tanpa cela, cerca, luka, duka, menganga, terbuka, dan tak pernah bisa ditembus siapa pun. Aku berharga dan punya nilai dalam mata seseorang yang tepat.

Malam ini aku berkaca pada bayangan dalam cermin utuh samping lemari. Ada wujud seorang perempuan dengan wajah yang masih berjerawat, rambut pendek, dan raga kurus berisi sedikit lemak. Aku melongok lagi jauh ke dalamnya. Ada sukma seorang perempuan dengan hati yang memang masih belum sembuh, masih ada jahitan dan kelopak bunga krisan. Ada juga gulungan film lama yang berputar di sana. Ada bulan purnama penuh yang benderang.

Ada yang berusaha jadi sempurna dan kembali utuh setelah sebelumnya diinjak banyak hina dari mulut seorang laki-laki. Ada jam waktu yang bergerak maju. Ada masa depan yang siap ditapaki. Ada hangat. Ada cahaya. Ada senyuman. Ada harapan.
Ah, itu aku. (SV)