Orang Tua yang Tetap Kucinta

Sebagai seorang anak perempuan tertua dengan segala kericuhan rumah tangga kedua orang tua, aku belajar menjadi dewasa dari mengamati keadaan. Sering melihat mereka bertengkar karena berbagai persoalan yang dulu tidak mudah kumengerti, setiap hari aku mencoba memahami diriku sendiri.


Meski belum menikah, aku menyadari bahwa menjadi mereka tidaklah semudah yang terlintas di pikiran. Menikah, mempunyai anak, dan hidup bersama hingga akhir hayat. Tidak semudah itu perjalanan berumah tangga. Ada liku-liku yang mau tidak mau akan dialami.
Seperti halnya aku yang mendengar kedua orang tua beradu argumen mengenai sesuatu yang seringkali menyesakkan dadaku. Hingga akhirnya sejak beberapa tahun yang lalu muncul ketakutan jika kelak dialami juga di pernikahanku.


Kini usiaku sudah 24 tahun, dengan beragam luka yang aku bawa ke mana-mana. Namun, bagaimana pun mereka adalah ayah dan ibu yang membesarkanku. Tujuanku masih sama, kelak dapat menemani serta merawat mereka hingga embusan napas terakhir. Dengan upayaku, kasih sayangku, dan keberadaanku yang entah sampai kapan di muka bumi ini. Semoga kelak mereka paham bahwa saat ini aku sedang berproses tanpa melupakan jasa mereka sedikit pun.

Malam hari adalah waktu yang berharga bagiku, walaupun sesekali pertengkaran orang tua terdengar hingga ke kedua telingaku. Karena memiliki tekad agar dapat hidup dengan lebih baik lagi dan sangat butuh suasana tenang, akhirnya aku belajar tentang regulasi emosi melalui bacaan. Belajar memahami segala yang terjadi sejak giat membaca buku-buku favoritku berikut ini:

  1. Buku Guy Winch berjudul “Pertolongan Pertama pada Emosi Anda: Panduan Mengobati Kegagalan, Penolakan, Rasa Bersalah, dan Cedera Psikologis Sehari-hari Lainnya
  2. Buku David R. Hawkins berjudul “Letting Go: Kekuatan Tersembunyi Sikap Pasrah
  3. Buku David R. Hawkins berjudul “Healing and Recovery: Jalan Praktis dan Efektif Hidup Sehat secara Fisik, Mental, dan Spiritual

Aku tidak dapat mengubah apa yang ada di luar kendaliku.

Selain membaca buku, mendengarkan musik sambil mengetik adalah refreshing bagiku. Tersadarkan bahwa aku tidak dapat mengubah apa yang ada di luar kendali, aku lantas menuliskan pembelajaran apa saja yang kelak dapat menjadi pengingat diri saat terpuruk lagi. Menulis di blog pribadi yang berisikan tulisan mengenai refleksi diri dan sesekali mengirim karya tulisanku. Ketika mendapatkan reward berupa uang atau pun pulsa, kugunakan untuk upgrade ilmu kepenulisan serta membeli buku bacaan.

Dengan cara-cara yang sudah kusebutkan di atas, aku sadar bahwa bukan sesuatu yang bijak ketika membebani serta menyalahkan diriku sendiri atas apa yang terjadi. Aku tidak dapat mengubah masa lalu atau pun meramal masa depan, yang dapat aku lakukan adalah berupaya menjadi diriku pada saat ini.

Untuk Ayah dan Ibu,

Maafkan anakmu  yang belum bisa seperti yang kalian harapkan. Belum mampu melunasi hutang-hutang keluarga. Maafkan aku yang pernah begitu sombongnya bahwa aku bisa hidup tanpa kalian. Diriku yang angkuh ini pernah menganggap bahwa aku bisa melakukan segala sesuatu seorang diri. Tanpa campur tangan kalian. Dikarenakan tidak ingin kalian tahu apa saja yang aku lakukan, rasakan, dan pikirkan semenjak kalian sibuk dengan argumen masing-masing. Maafkan aku.

Akhir kata, aku yang masih berproses untuk pulih dari toxic relationship kedua orang tua, bertekad menyerahkan sepenuhnya kebahagiaan mereka kepada mereka. Aku bukan lagi anak kecil yang menuntut untuk dibahagiakan saat aku sendiri paham bahwa kebahagiaan tidaklah harus dipaksakan. Ibarat pasir yang digenggam erat, perlahan-lahan akan berujung tanpa sisa. Aku mencintai mereka, apa pun status mereka kelak. (S)