Menjadi Perempuan Kedua

Awalnya aku merasa jadi perempuan yang paling berbahagia saat menjalani hubungan dengannya. Ia begitu perhatian kepadaku. Namun demikian, perlahan-lahan hubungan ini membuatku jadi seseorang yang kerap mempertanyakan diri sendiri.


Penampilanku, kelebihanku, keistimewaanku, semua terasa semu.

Setiap kali kami bertemu, dia selalu membandingkanku dengan perempuan lain. Sempat karena aku dianggap terlalu kurus, sedemikian rupa aku berusaha makan banyak demi bisa menambah berat badanku. Saat itu aku menyangkal bahwa usaha yang kulakukan memang untuknya. Aku bilang, aku hanya ingin memiliki tubuh yang ideal saja. Namun, sungguh aku hanya membohongi diriku sendiri. Jauh di lubuk hati, aku merasa tersiksa karena berusaha membangun pesona ideal sesuai harapannya.

Belakangan, aku baru tahu bahwa ia menjalin hubungan juga dengan perempuan lain. Terlebih, justru akulah yang menjadi selingkuhannya. Pengkhiatan, bagiku sangatlah menyakitkan, karena hal itu seolah mengisyaratkan ketidakberdayaanku dalam suatu hubungan. Rasa kecewa terhadap orang yang telah kukenal selama 7 tahun lamanya membuncah. Membuatku tidak percaya lagi terhadap laki-laki. Kupikir, laki-laki yang sudah kukenal lama saja bisa mengecewakan, apalagi yang baru kukenal?


Mengetahui bahwa aku telah menjadi selingkuhan membuatku jadi semakin membenci diriku sendiri. Membuat aku tidak bisa menerima diriku. Jujur, andai aku tahu bahwa dia masih memiliki hubungan lain, tidak mungkin aku mendekat apalagi sampai menumbuhkan rasa yang semakin menguat.

Prosesku untuk bangkit sangat luar biasa. Teman-teman terdekatku banyak sekali berupaya agar aku bisa melupakan semua kenangan. Seiring waktu yang mulai membiasakan, lukaku perlahan hilang dan logikaku mulai berjalan. Untuk apa mempertahankan perasaan terhadap seseorang yang tidak pantas untuk diperjuangkan? Jujur, teman-temanku memang sangat membantu prosesku untuk move on. Akan tetapi aku sadar bahwa diriku sendirilah yang memutuskan untuk berhenti membangun perasaan terhadap orang yang sudah sepantasnya dilupakan. Saat itu aku banyak melakukan refleksi diri. Mulai merenungi kekuranganku, tapi juga mengingat segala kelebihanku. Aku menyadari kesalahanku, tanpa menghakimi diriku. Aku belajar menerima, sambil mulai belajar menyikapi pengalaman hidup secara dewasa. Toh, waktu yang juga akan jadi penawarnya.


Meskipun aku sudah bisa bangkit, namun rasa percaya terhadap laki-laki seolah menjadi trauma tersendiri bagiku. Sekarang aku berfokus pada diriku sendiri dengan mulai lebih merawat diri, menyibukkan diri dengan kegiatan positif, belajar menjadi diri sendiri, dan banyak hal lainnya yang kufokuskan tentang diriku sendiri. Di sisi lain aku yakin, waktu akan menjadi jawaban. Waktu pula yang akan mengikis rasa traumaku secara perlahan. Aku percaya, waktu pula yang nanti akan mempertemukanku dengan pasangan yang mencintai diriku apa adanya. (Ayri)