Luka yang Menggerakkan

Katanya, apa-apa yang tidak mematikanmu akan menghidupkanmu. Dia akan menguatkanmu, akan pula menggerakanmu. Aku rasa begitu pula denganku.


Masih terngiang dengan banyaknya waktu yang kuhabiskan hanya untuk menimbang dan menerka ketakutan. Apakah ia akan marah hari ini saat aku menggunakan baju merah jambu kesukaanku? Apakah ia akan murka saat tahu aku bergabung dalam suatu kegiatan mahasiswa dan berjabat tangan dengan lelaki lain? Atau mungkin ia akan marah saat aku bercerita bahwa tubuh ini terdesak bersama ratusan penumpang KRL hingga tak sengaja tersentuh orang asing?

Maka setiap hari aku terus bertaruh. Kapan aku kembali membuat noda di matanya?

“Kamu tuh pantas diperlakukan gitu! Salah sendiri kamu gak nurut. Aku tuh kayak gini karena sayang sama kamu. Tapi kamu gak pernah nurut jadi perempuan.”

Seperti kaset rusak, begitu pula kalimat yang selalu ia keluarkan setiap aku bertanya gundah. Mengapa ia harus marah ketika aku diberi tugas kuliah bersama teman laki-laki sekali waktu, sementara setiap harinya ia bebas pulang bersama sahabat perempuannya?

Mengapa ia bisa mengatur semua bajuku saat keluar rumah untuk selalu tertutup, namun tidak demikian saat kami berdua? Mengapa ia memiliki sederet teman perempuan yang bisa bersamanya kapan saja, namun sekali pundakku ditepuk laki-laki lain, kemarahannya tidak mampu kubendung.

Kamu tahu apa yang paling menyedihkan? Untuk sekian lama aku merasa bahwa dia adalah kebanggaanku.

Bahwa malaikat keberuntungan pasti sedang menghampiriku saat ia menumbuhkan cinta di hatinya kepadaku. Lalu apa yang lebih menyedihkan dari kehilangan nilai akan kebenaran terhadap diri sendiri? Ah, betapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk menghakimi diri berdasar kuasanya.

“Mungkin memang kamu perempuan yang terlalu. Mungkin harusnya kamu menghapus semua kontak teman laki-lakimu. Mungkin harusnya kamu tidak menjawab sapaan laki-laki manapun. Kecuali jika dia sebagai pasangan yang menjamahmu kapan saja. Maka kamu harus mau.”

Mungkinkah begitu?

Tapi mengapa tidak pernah tenang tidurku?

Butuh waktu yang terlalu lama untukku bisa berkaca baik-baik. Untuk berhenti menyalahkan diri sendiri. Untuk memaafkan diri. Untuk menerima bahwa tidak semua hubungan akan berhasil. Bahwa tidak semua cinta akan berakhir dalam cinta rupa romansa.
Maka aku bangun pengetahuanku. Aku bangun pemahaman dan kesadaran. Aku bangun penerimaan dan dukungan. Perlahan, usai sudah pengalaman pembelajaranku bersama dia yang kucinta. Pembelajaran tersebut, bagaimanapun juga kumaknai sebagai proses bertumbuh. Aku jadikan lukaku sebagai nyala untuk bergerak. Untuk bersuara. Untuk berdampak. Untuk berdamai dengan diri.

Aku pernah bilang begini di ujung perjumpaan dengannya, “ Aku akan bergerak. Kamu akan lihat aku berdampak. Aku akan ulurkan tangan pada yang lain, seperti saat dulu aku berharap ada yang mengulurkan tangan ketika aku kehilangan diri sendiri. Aku akan tunjukkan apa itu cinta yang sesungguhnya. Dan aku memaafkanmu seperti aku memaafkan diriku sendiri.”

Malam ini, aku berterimakasih pada diriku sendiri. Terimakasih sudah bertahan, hingga mampu melawan. Terimakasih sudah berserah, namun tak putus asa untuk bergerak. Aku mencintaimu. (DK)