Learn, Share, Inspire

Saya pernah menjalani hubungan yang tidak sehat selama 2 tahun. Bukan hanya kekerasan emosional yang saya terima, saya juga mengalami kekerasan fisik seperti dipukul, dicekik dan kekerasan secara fisik lainnya.

Kalau dipikir lagi sekarang, saya tidak habis pikir kenapa saya bisa bertahan menerima perlakuan seperti itu. Saya seperti terpasung, dilarang pergi keluar sendiri, sebentar-sebentar harus chat, dan dilarang bertemu teman-teman.


Saya berubah menjadi seseorang yang sangat saya benci. Saya mudah membatalkan janji dengan teman, saya tidak melakukan tugas saya di organisasi, saya bahkan memutus hubungan dengan sahabat terbaik saya. Pengalaman saya tersebut menyadarkan saya akan beberapa hal yang kemudian mendorong saya untuk bisa keluar dari hubungan tersebut dan mulai mencintai diri saya sendiri.


Saya belajar bahwa jangan berubah demi orang lain, berubahlah demi dirimu sendiri. Kamu lah yang memiliki kontrol atas dirimu, jangan biarkan orang lain memaksamu berubah hanya untuk kesenangan mereka. Tanyakan kepada dirimu, Apakah aku benar-benar ingin berubah? Apakah perubahan ini baik untuk ku? Apakah perubahan ini benar-benar diperlukan? Apakah ada orang lain yang tersakiti apabila aku berubah?


Saya belajar bahwa kebahagian kita adalah prioritas nomor satu, dan sebaiknya selalu begitu. Hal tersebut tidaklah egois. Dulu saya terbiasa memprioritaskan kebahagiaan pacar saya dan terpaksa menderita karenanya. “Yang penting dia bahagia dan nggak marah-marah” pikir saya dulu. Saya tidak sadar bahwa hal tersebut sudah merupakan ciri-ciri hubungan yang tidak sehat.


Terakhir, saya juga belajar untuk jangan takut mendobrak norma patriarki. Seorang perempuan tidak harus bisa masak, tidak harus bangun pagi, tidak harus cemburuan dan emosional, tidak. Begitu pula laki-laki tidak harus terlihat macho, tidak harus selalu bersikap keras. Toxic masculinity juga menjadi salah satu faktor pemicu lahirnya hubungan yang tidak sehat. Selain itu, tegas terhadap diri sendiri. Jangan sampai cinta membutakan kita dalam mengambil keputusan.

Tentukan batas-batas untuk diri sendiri dan hubungan kita. Ketika batas itu dilewati, bersikaplah tegas dan ambil tindakan yang tepat. Ketika saya pertama kali mendapat kekerasan fisik, pacar saya meminta maaf dan saya pikir dia tidak akan melakukannya lagi. Lalu hal itu terjadi lagi, dan saya tetap bertahan, padahal hal tersebut sudah jelas akan terulang lagi. Saya gagal mengambil sikap tegas dan jatuh kembali dalam lingkaran kekerasan.


Akhirnya, saya paham paham bahwa i deserve better. Tidak ada seorangpun yang pantas berada dalam hubungan yang tidak sehat. Sebuah hubungan haruslah setara dan berjalan dua arah. Pasangan harusnya saling mendukung satu sama lain, bukannya saling menghambat. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang memandangmu secara setara, yang menghormati keputusanmu dan yang bisa memberikan ruang untuk tumbuh bagi dirimu.


Seorang teman saya pernah berkata seperti ini, “Kenapa kamu putus? Sedih banget padahal udah 2 tahun”. Teman saya tidak tahu kalau saya mengalami kekerasan. Saya kemudian menjawab “Lebih sedih lagi kalau saya nggak putus”.

Hubungan yang tidak sehat tidak pantas diperjuangkan, hubungan tersebut hanya akan merusak hidup korban dan pelaku. Teman, belajarlah untuk mencintai dirimu sendiri. Biarkan dirimu berkembang. Ketika kamu sudah bisa mencintai dirimu sendiri, maka di saat itulah kamu telah siap untuk mencintai orang lain.

(AAS)