Kala yang Membuat Kita Tumbuh

Dia adalah cinta pertama yang kutemui di bangku SMA. Ketika itu, dia adalah kakak kelasku. Mungkin karena pengalaman pertama mencintai, aku kerap mengambil keputusan yang keliru. Masa bersama 2 tahun yang kami lalui memang tidak semuanya buruk, namun kebahagiaan itu juga diiringi dengan kekerasan fisik dan verbal yang ia lakukan kepadaku dan tak bisa ku lupakan.


Aku tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya aku diludahi di depan teman-teman. Aku juga tidak akan lupa rasanya dijambak, ditampar, dan ditendang olehnya di kelas, di bibir pantai dan di belakang gedung sekolah. Sungguh ini sangat menyakitkan. Rangkaian kesakitan ini bertambah sakit ketika apa yang kualami ini malah menjadi bahan gosipan warga sekolah kala itu.


Benar bahwa aku merasa begitu terpuruk di dalam hubungan ini. Namun bagaimana bisa kugambarkan kepada kalian, betapa aku sangat mencintainya hingga aku bertahan di dalam toxic relationship ini selama 2 tahun? Aku tidak bisa menjelaskannya secara spesifik. Saat itu aku meyakini bahwa kesabaranku yang luas, akan menjadi pertahanan ampuh bagiku untuk menunggunya berubah menjadi pribadi yang lebih baik dalam memperlakukanku. Dan aku salah besar.


Menyadari bahwa ini adalah hubungan yang tidak sehat, akhirnya aku mengakhiri hubungan tersebut. Aku kemudian memblokir segala nomor telfon dan media sosialnya. Awalnya tindakan ini terasa sia-sia karena dia terus menungguiku di sudut-sudut kota yang sering aku lalui. Pada malam-malam awal perpisahan kami, aku terus mengingat dan merindukannya. Aku masih belajar untuk mengobati lukaku kala itu.

Jika ditanya apakah sulit untuk melepaskan dia dan kisah kami? Maka harus kuakui ini adalah satu-satunya kisah cinta tersulit yang bisa kulepas. Tidak ada kemungkinan yang terbuka bagi kami untuk bersama lagi. Keluargaku sangat menolak jika aku bersamanya karena mereka sudah tahu persoalan di antara kami. Akan tetapi, hatiku sempat masih menginginkannya.

Proses pemulihan yang kulewati membawa aku pada hal-hal yang positif bagi pertumbuhan diriku. Aku membenamkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang kusukai seperti mendongeng, paduan suara dan membaca buku. Banyak pelajaran mengenai cinta yang aku dapatkan dari novel-novel yang ku baca dan dalam dialogku bersama Tuhan. Semuanya mengajarkanku beberapa hal di antaranya :

  1. Cintailah dirimu secara utuh sebelum engkau mencoba mencintai orang lain
  2. Tidak perlu takut perihal jodoh karena yang terbaik sedang Tuhan siapkan
  3. Beranilah untuk meninggalkan toxic relationship

Hari terus berganti dan aku terus berproses menyembuhkan luka-lukaku. Mungkin dia juga melakukan hal yang sama. Hingga pada suatu hari yang begitu baik sebuah nomor tak dikenal mengagetkanku. Melalui telfon hari itu, lelaki posesif dan kasar yang ada di masa laluku itu berkata-kata dari seberang sana.


“Nona, saya diterima di salah satu biara di Sumba. Jika Tuhan berkehendak saya akan jadi Imam. Tolong jangan benci dengan saya lagi. Doakan saya untuk menemukan jalan hidup saya. Di sini saya selalu mendoakan Nona.”


Saya tersenyum bahagia mendengar rangkaian kalimat itu sambil menjawab.

“Iya. Sudah semestinya kita saling mendoakan. Baik-baik di sana. Pakai hatimu untuk redakan emosimu.”

Kami memilih jalan hidup yang begitu berbeda. Rupanya selepas perpisahan itu, bukan hanya aku yang berusaha menemukan takdir, tetapi dia juga. Semoga masing-masing kita dapat bahagia di masa depan.

Tuhan sayang kita berdua. (DWP)