Ibu yang Bahagia

Panggil saja aku Rara, umurku 30 tahun dan aku adalah seorang ibu. Kini status single mom tersemat dalam diriku sambil terus berjuang dalam hiruk pikuknya ibu kota untuk bertahan demi anak. Saat itu hidupku baik baik saja, mempunya karir yang cemerlang, dan secara finansial pun aku stabil dapat hidup mandiri meski jauh dari orang tua. Kehidupanku berubah ketika aku bertemu dengannya.
Pertama kali berjumpa dengannya, aku merasa sangat cocok. Dari mulai cara kerja yang seritme dan caranya membuatku nyaman. Sebetulnya saat itu aku sedang memiliki pasangan dan dia pun memiliki pasangan . Namun seiring waktu, kami menjadi begitu dekat dan merasa cocok. Kemudian, aku mengetahui bahwa dia memiliki istri dan anak. Meski demikian, dia selalu meyakinkan bahwa ia tidak pernah bahagia dengan rumah tangganya. Sekalipun aku mencoba mundur dari hubungan ini, ia tetap mengejarku dan berusaha mendekatiku.


Bertahun-tahun lamanya aku hidup dalam kehidupan yang penuh dengan kekerasan bersamanya. Terkadang ia memukulku, terkadang ia menghinaku. Bahkan dia pun mengatur komunikasiku bersama keluarga.


Seseorang yang dulu kucintai berubah menjadi seseorang yang sangat kutakuti.

Anehnya, meskipun dia melakukan kesalahan, aku masih bertahan bersamanya. Saat itu berkat semua kata-katanya yang manipulatif, aku merasa pantas mendapatkan semua perlakuan itu. Di belakangku, ternyata ia berselingkuh dan justru melakukan gaslighting kepadaku.

Sampai di satu titik, aku merasa muak dengan segala kesalahannya dan aku mulai membalas perbuatannya. Ketika dulu aku terdiam ketika dia menghinaku, kini aku membalas dengan cara yang sama. Sempat terlintas kepuasan tersendiri saat melakukannya.
Ternyata luka yang dia beri tidak cukup itu saja. Aku hamil dengan statusnya yang masih bertahan dengan istrinya dan akhirnya aku menjadi istri kedua. Aku mulai stres dan meminta pertanggungjawabannya. Meskipun dalam kondisi hamil, dia tetap menyakitiku, menghinaku, membiarkanku menghadapi kehamilan sendirian, bahkan aku harus menanggung hutang akibat pinjaman modal usaha kami berdua.

Akhirnya aku melahirkan anak laki laki pertamaku, aku mulai sadar bahwa sudah terlalu lama hidup dengan pasangan beracun yang tanpa sadar membuatku menjadi pribadi yang beracun pula. Kini aku tau ada luka psikis yang perlu kuperbaiki dan aku ingin berproses demi anakku . Anakku butuh ibu yang bahagia. Aku ingin anakku menjadi anak yang sehat baik fisik dan mentalnya. Menjadi seorang single mom memang tidaklah mudah, tapi aku mencoba sekuat mungkin untuk bangkit. Proses ini memang tidak mudah, tapi aku masih mencoba untuk memaafkan diri sendiri dan tidak lagi menyalahkan diri sendiri. Anakku kini menjadi kekuatanku untuk bertahan. (RR)