Had Been a Victim , But This is Not the End of My Life

Berada dalam hubungan yang tidak sehat adalah bukan harapan setiap orang.


Berawal dari keputusanku di usia 20 tahun untuk menjalin hubungann dan berkomitmen dengan seorang lelaki yang kupikir baik, penuh kharisma, lucu, berjiwa pemimpin, dan selalu memposisikan diriku sebagai seseorang yang berharga.
Tidak mudah untukku berpacaran saat itu, kita mengalami proses PDKT selama 2 tahun sebagai sahabat, sehingga ketika memulai untuk berpacaran aku begitu yakin bahwa komitmen yang dibangun akan sampai pada tujuan akhir, yaitu pernikahan. Tidak dipungkiri bahwa aku terlalu mencintainya dan aku begitu nyaman dengannya.


Pada awalnya, hubungan ini baik-baik saja. Banyak pihak luar yang mengatakan bahwa gaya pacaran aku dengan dia sangat baik, meskipun aku berpacaran dengan dia, tetapi tidak menutup aktivitas di kampus yang sangat banyak, kami sama-sama saling disibukan oleh kegiatan organisasi dan pengembangan diri.


Namun, seiring berjalannya waktu, aku selalu membantunya mengerjakan tugas dan aku rasa itu adalah hal yang biasa. Aku pikir, itulah cara kita mendukung orang yang kita cintai agar berhasil dalam meraih cita-citanya.


Kebiasaan itu berlanjut pada saat kami sudah lulus dan berpindah ke Jakarta untuk bekerja. Di tahun pertama dia bekerja dan mendapat tugas pendidikan, aku selalu mengerjakan setiap tugasnya, bahkan membuatkan beberapa karya ilmiah dan berbagai bentuk laporan yang ditugaskan padanya, seolah tidak ada batas di antara kami. Setelah aku pulang bekerja di kantor, biasanya aku langsung bertemu dengan dia, mengerjakan hal-hal yang dia minta. Sebetulnya aku merasa capek, seolah yang menjadi fokus dalam hidupku hanyalah dia dan bukan diriku sendiri. Akan tetapi, pikiran tersebut aku anggap angin lalu semata.


Hingga akhirnya dia dinyatakan lulus dari masa pendidikannya dan resmi meniti karir di salah satu instansi pemerintah yang bagi kebanyakan orang adalah institusi yang prestisius. Akan tetapi, mulai saat itulah semuanya berubah, aku dilarang sama sekali untuk hadir di acara pelantikan/wisudanya. Bahkan setelah itu dia seperti bukan dirinya, banyak perbedaan- perbedaan yang ada di dalam diri aku mulai tidak bisa diterimanya. Ia mulai membandingkan diri aku dengan yang lain, bahkan di setiap pertengkaran dia selalu berhasil membuat aku merasa bersalah dan harus meminta maaf.
Anehnya aku selalu merasa dia baik dan masih sangat sayang padanya. Hingga suatu hari aku mengetahui bahwa dia memilih perempuan lain. Kejadian ini membuatku sangat runtuh, depresi, dan sakit sekali. Tidak pernah terbayang dalam pikiran aku sebelumnya, lelaki baik yang pertama aku kenal dan berpacaran selama 5 tahun bisa seperti ini.
Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya aku memutuskan berhenti dari semua rasa sakit itu dengan menerima realitas yang terjadi, dan mulai dengan perubahan mindset. Aku mengatakan pada diriku bahwa aku layak untuk bahagia, dan aku layak untuk bisa hidup dengan damai dengan tidak lagi menyiksa diriku akibat hubungan yang toxic.

Aku merasa perlu untuk menyuarakan bahwa kita perlu untuk memahami healthy relationship. Dari pengalaman kisah cinta masa lalu tersebut, hal yang dapat aku bagikan adalah sebagai berikut :

  1. Belajarlah untuk mencintai diri kita terlebih dahulu dan ketika di dalam fase pacaran, cintailah pasangan kita dengan sewajarnya dan tidak berlebihan dan tidak menggantungkan kebahagian kita hanya pada dia.
  2. Creating boundaries menjadi hal yang baik dan perlu untuk dilakukan, karena kita memerlukan personal space, dan kita memerlukan privacy.
  3. Be realistic
    Jika hubungan ini akhirnya berakhir, yakinlah bahwa kita pasti bisa melalui fase terpuruk, yakin bahwa ini adalah fase dari Tuhan untuk mendewasakan diri kita.
  4. Terakhir, semoga ceritaku dapat memberikan pelajaran yang baik untuk teman-teman di manapun kita berada, we deserve happiness, we deserve respect, aku masih punya jalan yang panjang untuk menjadi perempuan yang terus bertumbuh . Salam semangat ya 🙂

(IDJ)