Dan dari Kehancuran Timbullah Keindahan

“Kamu bodoh, tolol, idiot!”

Teriaknya kepadaku. Aku belum menyadari bahwa itu adalah bentuk kekerasan verbal hingga senantiasa menginternalisasi semua kata-katanya. Aku lakukan apapun untuknya. Sampai tidak sadar bahwa cucian, makanan, dan tempat tinggalnya pun kutanggung. Tak ada lagi waktuku untuk teman, pekerjaan, bahkan keluargaku sendiri.

“Kamu tahu kalau keluarga dan teman-temanmu itu idiot, kan?”

Sekali lagi kata-kata itu hinggap di kepalaku. Ia telah mengisolasiku dari semua support system yang aku miliki. Tanpa aku tahu, perlahan-lahan support system- ku terus dan terus berkurang. Pada akhirnya, aku hanya punya dia. Tidak sampai lima tahun, dia mulai melakukan kekerasan fisik kepadaku. Dia yang mengaku diri sebagai feminis justru melanggar kata-katanya sendiri. Menggunakannya untuk gaslighting.

“Kalau katanya kamu feminis, apa masalahnya open relationship? Kalau kamu feminis apa masalahnya kalau aku dengan orang lain?” ujarnya kala itu.

Tidak. Aku tahu bahwa aku berhak menolak keinginannya untuk menjalankan hubungan open relationship dan aku tidak mau menerima permintaannya untuk melakukan prostitusi paksa.

“Kamu mau tidak memprostitusikan dirimu? 500.000 per hari.”

Aku pikir dia bercanda, sebelum akhirnya dia sungguh-sungguh membawaku ke lelaki hidung belang dan kepada teman-temannya. Dengan obat yang diharapkannya akan membuatku kehilangan moral dan akal sehat. Saat itu akhirnya tidak ada yang terjadi, namun pengalaman ini membuatku trauma. Rupanya dia mempermainkan makna kebebasan versinya untuk memaksaku melakukan hal-hal yang tidak kukehendaki.

“ Tidak. Kebebasan bukanlah berada dalam hubungan semu. Justru kebalikannya, jika aku hendak memperjuangkan hak-hak perempuan, aku mesti bergerak untuk membebaskanku dan perempuan lain dari belenggu kekerasan.”


Kekerasan tidak memiliki tempat di dunia.

Akhirnya aku sampai pada kesadaran tersebut. Kekerasan tidak memiliki tempat di dunia. Hubungan tidak semestinya seperti ini.

Jika kamu terjebak dalam hubungan seperti itu, kamu tidak sendiri. Kamu harus tahu bahwa dirimu berharga. Jika ia berupaya menghancurkanmu, maka tumbuhkanlah keindahan dari kehancuran itu. Jadilah bunga yang kuat dan tidak terkalahkan. Maka jadilah kamu perempuan yang terus bertumbuh. Yang tidak membiarkan relasi beracun menjadi penghalang. Jangan biarkan manipulasinya membuatmu tunduk, jika kamu harus menjadi pohon yang berdiri tegak.

Tumbuhlah, hal yang indah. Katakanlah siapa dirimu. Kamu bukan prostitusi. Kamu tidak perlu menerima kekerasan itu. Koersi itu.

Kamu bukan kata-kata negatif yang sengaja ia katakan padamu untuk mengambil power & controlmu.

Kamu adalah manusia independen yang dapat eksis tanpa belenggu dirinya.

Maka larilah.

Pergilah ke lingkungan di mana kamu disambut, bukan disakiti.

Pergilah ke orang-orang yang merayakanmu, bukan menghancurkanmu.

Balas dendamlah dengan tumbuh cantik, pelan tapi pasti.

Relakanlah semua yang telah dia ambil.

Karena yang terpenting adalah dirimu aman.

Tumbuh dalam perlindungan.

Jauhilah hubungan abusive. Jauhilah orang-orang yang menyakitimu. Karena kamu dibesarkan orang tuamu bukan untuk disakiti.

Jadilah dirimu yang sebenarnya. Gunakanlah kehancuranmu untuk tumbuh menjadi bunga yang cantik. Karena abu itu adalah pupuk bagimu bertumbuh.

Hai, bungaku yang cantik! Jangan biarkan lagi ada yang mengatakan sebaliknya! (DA)