#BertuturBerani

Telusuri perjalanan para penyintas untuk berproses pulih dari pengalaman kekerasan dalam relasi personal yang dialaminya. Mari mendengar tanpa menghakimi. Mari bersama berbagi daya.

EBOOK AKU LAYAk BAHAGIA

Woman must write her self, must put herself into the text – as into the world and into history – by her own movement . Women should break out of the snare of silence.
– Helene Cixous –

Apa yang disampaikan Cixous tentang feminine writing di atas menjelaskan pentingnya perempuan menulis. Melalui tulisan, perempuan sejatinya dapat merebut relung-relung sunyi yang selama ini tidak dapat dibicarakan. Cixous berkeyakinan bahwa menulis dapat memotivasi perempuan agar mengubah caranya ber-Ada dan cara mengerjakan hal dalam kehidupannya yang nyata. Baginya, feminine writing bukan hanya sebuah gaya tulisan, melainkan kemungkinan untuk perubahan karena tulisan feminin bersifat terbuka, beragam, tidak kaku dan penuh dengan kekuatan.


Melalui paparan tersebut, penulisan e-book Aku Layak Bahagia diharapkan dapat memberi ruang dan inspirasi bagi perempuan untuk berbagi kekhasan dalam menuturkan pengalaman diri yang beragam.

Terima kasih tak terhingga untuk para penyintas yang bersedia berbagi cerita dalam rangkaian tulisan ini. Terimakasih juga kepada Yayasan Dunia Lebih #ABetterWorldPrize dari Campaign.com & Perempuan Peduli yang mendukung terwujudnya buku ini. Serta terimakasih tak terhingga pada segenap relawan HelpNona yang membantu berjalannya kegiatan ini.


Selamat menyelami suara perempuan penyintas yang memilih untuk #BertuturBerani, karena #CintaBukanLuka.


(HelpNona)

Referensi:
Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought : A More Comprehensive Introduction. Trans. Aquarini Prabasmoro.Yogyakarta: Penerbit Jalasutra. Trans. of Westview Press, 1998.
Hunter College. Women’s Realities, Women’s Choices. New York: Oxford University Press, 1995