Move On Mode On

Panggil saja aku Udin. Bukan, aku bukan laki-laki. Aku lahir sebagai perempuan, yang 34 hari 21 jam lagi akan berumur 21 tahun. Ini kisahku. Jika ada hal yang terkesan menggurui ketika dalam bercerita, percayalah ini bukan karena aku ingin ceramah. Aku hanya ingin berbagi, karena sharing is caring.


Ini adalah kisahku dengan sang mantan (sebut saja dia Pai). Perlu kalian ketahui Pai adalah laki-laki yang sangat sopan dan pemalu, tetapi sangat posesif. Cemburunya berlebihan, sampai semua teman-teman yang memiliki akun sama denganku, dia ikuti juga teman-temanku di akun itu. Semacam stalker lah.


Kali ini aku akan menceritakan kisah cintaku dengannya. Momennya saat Liburan Idul Fitri pertamaku bersama Pai dan keluarga besar. Hari itu adalah dua hari setelah Idul Fitri, pertama kalinya aku dikenalkan kepada keluarga besarnya sebagai “Pasangan”. Senang? Tentu saja. Malu? Barangkali saat itu tidak, karena urat malu ku telah putus oleh si senang. Tiga hari dua malam, kami habiskan waktu di daerah pantai Pangandaran. Saat itu adalah liburan paling melelahkan yang pernah aku lalui. Mungkin juga bagi Pai dan keluarganya. Bagaimana tidak? Perjalanan dari Pangandaran ke Bandung saja menghabiskan waktu hampir 16 jam.


Saat sampai di Bandung, pagi-pagi sekitar pukul 05.45 WIB, bus yang kami sewa untuk liburan mengantarkan kami di titik kumpul, yaitu di rumah Pai di daerah Cibaduyut, Kab. Bandung. Aku, Pai dan keluarganya bergegas ke rumah Pai dan menunaikan Ibadah sholat Shubuh. Setelah selesai, aku izin pamit untuk pulang ke rumah di Dago. Pai tidak mengizinkannya “Mau pulang naik apa? Istirahatlah dulu sebentar. Nanti siang kuantar pulang.”

Aku yang memang sudah ingin merasakan kamarku sendiri, rasanya ingin cepat-cepat pulang ke rumah, “Aku minta bapak jemput. Sudah kamu kan sedikit flu. Istirahat saja, tidak usah antar aku pulang.” Jawabku. Aku lakukan itu karena memang aku melihat matanya seperti sangat lelah, suaranya pun sedikit parau.

Niat baikku tak ingin merepotkan Pai, malah membuatnya marah. Dia memaksaku untuk tetap tinggal di sana dengan alasan bahwa tidak enak jika harus Bapakku yang menjemput, padahal dia yang mengajak aku pergi. Maka aku pun bergegas pamit kepada orangtuanya. Lalu, tiba-tiba Pai menahan aku dengan muka yang merah padam di hadapan kedua orangtuanya. Dia berteriak “Oh, Ok lu gak menghargai gue. Sudah, sana pergi !” sambil membanting pintu rumah.
Aku yang kaget, hanya bisa diam. Kedua orangtuanya pun kaget dan menegurnya, tapi dia masih mengusirku dengan kata-kata kasar. Bahkan, hingga aku keluar dari rumahnya, dia terus memaki. Sampai-sampai tetangga-tetangga melihat keluar. Aku? Aku berjalan ke arah jalan raya dengan menunduk setelah mengucapkan salam kepada kedua orangtuanya. Dengan segala rasa terkejutku, rasa marah, lelah, dan kecewa, terus berjalan hingga tak terasa pipiku sudah basah.

Kejadian itu membuatku malu, membuat aku sakit. Ini bukan kejadian pertama kalinya. Sebelumnya juga pernah dia seperti itu. Aku heran mengapa hal yang bagiku sepele, bisa membuat emosinya sangat meledak? Entah apa yang menjadikan seorang laki-laki sangat kasar. Sempat aku berfikir itu adalah cara mereka menyampaikan rasa sayang mereka, rasa cinta mereka. Banyak laki-laki yang akhirnya memilih cara kasar untuk mengekspresikan segala bentuk emosi kecewa dan sedihnya, karena pada umumnya laki-laki dengan budaya yang ada seringkali dituntut untuk jadi seorang maskulin, yang kuat, yang tegas. Padahal bagiku harusnya tidak seperti itu, setiap orang pasti butuh pundak untuk berbagi rasa sedihnya, termasuk laki-laki.

Awalnya aku takut untuk mengambil keputusan berpisah dengannya, hingga akhirnya aku mendapatkan kesempatan mengikuti seminar mengenai kekerasan dalam relasi romantis. Nyatanya, kita harus tahu bahwa INTIMATE PARTNER VIOLENCE (IPV) merupakan segala bentuk kekerasan dalam hubungan. IPV bisa saja dalam bentuk kekerasan fisik, kata-kata emosi, uang dan/atau seksual.


Contoh:

  • Mengontrol atau mengatur cara berpakaian, melarang pasangan bergaul dengan orang lain.
  • Cemburu yang berlebihan (posesif).
  • Memaksa berciuman dan berhubungan seksual.
  • Meminta dengan paksa untuk membayar biaya kencan.
  • Dan masih banyak lagi.

Setelah seminar itu, aku jadi #Bertuturberani. Aku pisah dengan Pai. Ada perasaan lega, ada perasaan kecewa, aku menggalau hingga 1 semester selama kuliah. Aku yang memang tidak tinggal bersama keluargaku, merasa bahwa Pai adalah satu-satunya sumber cinta yang bisa aku dapatkan. Ternyata aku salah. Aku tahu hidup itu juga sendiri adalah masalah. But the past is in the past, masa lalu biarlah masa lalu. Hal yang berlalu biarlah berlalu. Bahaya jika kita menganggap bahwa sumber cinta satu-satunya itu adalah sang mantan. Karena sibuk menggalau, kita sering gak sadar kalau cinta itu juga ada di sekitar kita, terutama dari keluarga dan teman.

Nah biar move on, kamu buat mode on dulu move on nya. Buruan klik ‘ON’ dengan :
• Banyak-banyak inget Tuhan
• Bukan mau ceramah, tapi setelah galau terbit rasa bersalah kayak udah lama banget ninggalin Tuhan karena mantan.
• Banyak ikut kegiatan positif
• Kalau ada event-event yang buka open recruitment kepanitiaan ikutan aja, itu bisa nambah teman, nambah aktivitas bermanfaat. Kalau kamu terus sendirian dan cuma diem-diem di kamar, nantii kamu malah tambah galau kepikiran dia melulu.
• Banyak-banyak nyari temen baru
• Oh iya, jangan lupa makan ice cream atau coklat karena itu bisa mengurangi rasa stressmu!

(FNH)