Skip to content

The Good Girl Syndrome

Mengenal Good Girl Syndrome
Tumbuh di lingkungan keluarga yang selalu mengajarkan anak perempuan untuk patuh dan submisif, ternyata dapat mengantarkan kita pada good girl syndrome. Seseorang yang memiliki good girl syndrome selalu mencari cara untuk bisa membuat pasangannya bahagia atas perilaku yang dilakukan dan sebisa mungkin tidak mengecewakannya. Selain itu, karakteristik good girl syndrome juga tergambar dari kebiasaan seseorang untuk membuat sosok di sekitarnya bahagia hingga akhirnya ia hanya menggantungkan makna kebahagiaan pada reaksi orang lain.


The thing is, membuat orang lain bahagia bukanlah sesuatu yang salah, namun bagi good girl syndrome ini bisa berbahaya karena mereka menjadi kurang peka terhadap emosinya sendiri dan kurang memprioritaskan diri sendiri. Apabila terus dilakukan dalam jangka panjang, kebiasaan ini tentu bisa berdampak buruk.

Good Girl Syndrome dalam Relasi Romantis
Ketika menjalin hubungan romantis, budaya bias gender umumnya kerap mengasosiasikan perempuan untuk selalu berperilaku lemah lembut, loyal, dan penuh kasih sayang. Terkadang, good girl syndrome dapat membawa hubungan menjadi kurang sehat, apalagi ketika situasi sudah menempatkan salah satu pihak untuk sulit menolak permintaan pasangan karena dorongan untuk selalu menyenangkan pasangannya. Padahal, hal itu tidak sesuai dengan isi hati yang sesungguhnya.


Akibatnya, seseorang yang mengalami good girl syndrome menjadi semakin dependen dan cenderung kesulitan untuk mengenali emosi dan batasannya sendiri. Di sinilah relasi toxic hingga abusive dapat terjadi.

Langkah untuk Menjadi Dirimu Seutuhnya
Well, penting bagi kita untuk tahu batasan kapan waktunya mengutamakan kebahagiaan orang lain dan kapan waktunya mengutamakan kebutuhan diri sendiri. Good Girl Syndrome kerap memenjarakan diri kita yang seutuhnya karena sibuk memantaskan diri untuk orang lain. Oleh karena itu, kamu bisa mengikuti langkah-langkah berikut untuk bisa berhenti dari ‘penjara’ good girl dan kembali menjadi dirimu seutuhnya:

  1. Mengetahui keinginanmu yang sebenarnya
    Coba untuk tidak menyembunyikan perasaan atas keinginan yang ingin kamu capai atau rasakan. Jadikan setiap keinginanmu adalah sesuatu yang valid dan prioritaskan hal tersebut terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan respon dari orang lain.
    2. Berani katakan tidak.
    Jika pasanganmu menginginkanmu melakukan hal yang tidak membuatmu nyaman, jangan takut untuk menolaknya. Ingat selalu posisikan dirimu sendiri sebagai prioritas sebelum mendahulukan kebahagiaan pasangan. Dalam hubungan, kebahagiaan yang sebenarnya datang dari kedua belah pihak, bukan hanya salah satu pihak.
    3. Utarakan perasaanmu ketika merasa sedang tidak dihargai.
    Ketika pasanganmu melakukan tindakan yang nampak kurang menghargai dirimu, utarakan perasaanmu yang sesungguhnya. Jangan menahan diri hanya karena takut pasanganmu akan kecewa atas keputusanmu. Ajak pasanganmu untuk bicara agar Ia bisa memahami posisi dan perasaanmu. (Melisa N)

Referensi:
Amsel, Beverly. 2012. Pleasing Others to Escape the Bad Person Feeling – GoodTherapy.org Therapy Blog [daring]. Good Therapy. https://www.goodtherapy.org/blog/pleasing-others-bad-person-feeling-0308124/ (Diakses pada 17 April 2022).
Maninng, Margaret. 2014. Let It Go — Exploring And Escaping The ‘Good Girl’ Syndrome [daring]. Huffpost. https://www.huffpost.com/entry/good-girl-syndrome_b_4781941 (Diakses pada 17 April 2022).
Newsonen, Susanna. 2018. 5 Ways to Stop Being A Good Girl and Start Getting Stronger [daring]. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-path-passionate-happiness/201802/5-ways-stop-being-the-good-girl-and-start-getting-stronger (DIakses pada 17 April 2022).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *