Skip to content

Masalah Relasi Zaman Sekarang: Ghosting?

Pernahkah kamu kehilangan kontak dengan pasangan, teman, atau keluarga secara tiba-tiba? Atau malah kamu sendiri yang sengaja menghilang dari mereka tanpa berpamitan terlebih dahulu? Apalagi bila hubungan tersebut dibangun dalam dunia maya, tentunya lebih mudah untuk melakukan pemutusan hubungan atau yang kita kenal dengan istilah “Ghosting” tersebut, bukan?


Ghosting merupakan “pemutusan hubungan” yang terjadi tanpa peringatan awal dan penjelasan sama sekali (bak menghilang seperti hantu) oleh seseorang yang pada awalnya dirasa peduli dan sudah dipercaya. Tiba-tiba saja, tidak ada panggilan, tidak ada pesan dan balasan, serta tidak ada interaksi yang dibuat di dunia nyata maupun media sosial oleh pasangan, teman, atau keluarga yang melakukan Ghosting.

Sebagai manusia yang memiliki pikiran dan emosi, tentunya tindakan Ghosting memiliki dampak yang tidak baik bagi mental orang yang di-Ghosting. Ghosting dapat menimbulkan perasaan tidak dihargai, dibodohi, dimanfaatkan, dihina, hingga ditinggalkan (dibuang). Efeknya bisa menjadi lebih traumatis apabila kita merasakan kekecewaan dan rasa dikhianati yang sangat dalam. Mengapa rasanya bisa begitu buruk?

Di-Ghosting membuat kita clueless atau merasa tidak punya petunjuk mengenai cara bereaksi untuk menangani keadaan tersebut. Kita menjadi bertanya-tanya, “ Haruskah aku khawatir? Bagaimana jika dia sedang sakit? Mengapa aku marah? Mungkin saja dia sedang sibuk, kan?” Kita tidak tahu bagaimana cara bereaksi yang seharusnya karena kita memang tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dan kita tidak memiliki kendali atasnya. Otak kita bekerja dengan memindai lingkungan dan mencari isyarat darinya mengenai cara bereaksi (beradaptasi) di lingkungan (situasi sosial) tersebut. Karena itu, kita perlu terhubung dengan orang lain untuk mengetahui cara bereaksi yang tepat. Ghosting menghalangi didapatkannya isyarat-isyarat tersebut sehingga kita menjadi clueless.

Selain itu, Ghosting juga dapat menyebabkan kita mempertanyakan dan menyalahkan diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Mengapa aku tidak mengira bahwa ini akan terjadi? Apa salahku sehingga dia melakukan ini?” muncul sebagai hasil dari sistem psikologis tubuh yang memantau situasi sosial kita. Setelah itu, rasa keberhargaan diri yang rendah dapat muncul setelah mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi dengan asumsi pribadi.


Dengan dampak yang begitu menyakitkan secara emosional, sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang melakukan Ghosting? Ghosting pada umumnya terjadi dalam hubungan jangka pendek yang ditandai dengan komitmen dan kedekatan yang dirasa rendah. Seseorang dalam hubungan sejenis itu lebih memilih untuk mengakhiri hubungan dengan Ghosting, bukan secara baik-baik. Di samping itu, berikut faktor penyebab seseorang melakukan Ghosting:

Ketidaknyamanan

Melakukan dialog secara langsung untuk mengakhiri suatu hubungan bisa jadi tidak menyenangkan, membutuhkan energi dan waktu, dan membutuhkan kemampuan mengelola emosi.

Pudarnya ketertarikan

Bosan, kehilangan minat, dan penurunan ketertarikan romantis. Orang tersebut memilih untuk keluar lebih awal dengan tanpa banyak usaha. Pasangan memiliki karakter yang tidak diinginkan seperti menyinggung sehingga emosi berubah dari ketertarikan menjadi penolakan atau dengan kata lain, dari positif menjadi negatif.


Ketidakamanan

Seseorang merasa hubungan tersebut mengganggu keamanannya (misalnya pasangan memiliki tendensi abusif) sehingga ia mengakhiri semua komunikasi secara tiba-tiba.

Nah, apabila kamu sedang ingin melakukan Ghosting, hendaknya pertimbangkan dampaknya untuk orang lain, apakah kemalangan orang lain sebanding dengan keuntungan (kepraktisan) yang kamu dapatkan? Apabila pernah di-Ghosting, hendaknya melakukan evaluasi diri dan berusaha mencari kejelasan secukupnya saja, serta pada akhirnya, berikan afirmasi positif untuk diri sendiri dengan meyakini bahwa urusan hubungan merupakan jalan terbaik yang sudah ditentukan Tuhan untuk kita, sehingga kita bisa mengambil sisi positif dari kejadian tersebut. (Rheandita Vella Aresta)

Referensi:
https://www.psycom.net/what-is-ghosting
https://www.psychologytoday.com/us/blog/living-forward/201511/why-ghosting-hurts-so-much
https://www.psychologytoday.com/us/blog/meet-catch-and-keep/202111/4-reasons-why-people-ghost

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *