Skip to content

Imposter Syndrome: Aku Merasa Tidak Pantas

Pernahkan kamu merasa tidak layak mendapatkan juara kelas atau memenangkan lomba saat kecil? Kamu merasa usahamu tidak cukup maksimal, ada lawanmu yang lebih kompeten, tetapi hari itu merupakan hari keberuntunganmu sehingga kamulah yang memenangkan perlombaan atau menjadi juara kelas! Jika iya, bisa saja kamu pernah mengalami “Imposter Syndrome”.


Imposter Syndrome adalah pola pikir yang menimbulkan perasaan bahwa kita sedang “tersesat” walaupun sebenarnya kita tahu apa yang sedang kita lakukan, sehingga kita merasa menjadi “penipu” saat berhasil melakukan sesuatu dan sulit menerima keberhasilan diri. Kita menjadi merasa bahwa orang lain bakal mengetahui dan mengekspos diri kita yang sebenarnya mengandung ketersesatan atau kelemahan tersebut. Seseorang bisa mendapatkan banyak bukti keberhasilannya, tetapi tetap merasakan Imposter Syndrome. Mereka mengaitkan keberhasilannya dengan faktor eksternal: keberuntungan atau waktu sedang baik, dibandingkan mengaitkannya dengan faktor internal (kemampuan diri). Mengapa hal ini bisa terjadi? Beberapa dari penyebabnya adalah karakter perfeksionisme dan lingkungan yang kompetitif. Keduanya menuntut kita untuk terus ber-progress dengan terus merasa “kurang” dan cemas.

Seiring bertambahnya usia, Imposter Syndrome juga terjadi dalam relasi romantis. Dalam hubungan romantis, Imposter Syndrome ini menimbulkan kecemasan bahwa pasangan akan segera mengetahui kelemahan dan memutuskan hubungan dengan kita. Selain itu, kita juga sering merasa tidak layak/pantas untuk pasangan karena kelemahan kita tersebut dan mengabaikan sisi kelebihan diri sendiri. Akibatnya, kita merasa perlu menjadi sempurna, insecure karena membandingkan diri dengan mantan/orang lain yang kita rasa lebih pantas bersama pasangan, hingga merasa tidak berharga sebagai manusia. Sebagai pengembangan dari perasaan-perasaan tersebut, berikut ini perilaku-perilaku merugikan diri sendiri yang berkaitan dengan Imposter Syndrome:

Menyabotase keberhasilan hubungan
Karena keberhargaan diri yang rendah, kita meragukan kapasitas diri sendiri dan tidak mudah mempercayai pasangan. Karena itu, kita memilih untuk menghindari konflik dengan tidak jujur dan tidak menyampaikan pendapat yang berbeda dengan pasangan. Kita takut bahwa kita tidak memiliki kemampuan berdiskusi yang baik dan kurang yakin bila pasangan memiliki kemampuan untuk memahami lalu menerima perbedaan pendapat. Dengan begitu, kita menghambat perkembangan hubungan sehat yang dilandasi dengan keterbukaan.

Tidak mengusahakan hubungan dengan maksimal
Pikiran bahwa kita belum cukup baik membuat kita menerima konflik-konflik dalam hubungan dengan dalih: “Memang aku belum cukup baik, jadi kegagalan-kegagalan ini wajar terjadi.” Sehingga, kita tidak berusaha memperbaiki konflik dengan maksimal, melainkan mewajarkannya.


Membiarkan hubungan berakhir begitu saja
Lain dengan jenis perilaku sebelumnya, bisa saja kita langsung menyalahkan diri sendiri saat terjadi konflik dan memutuskan hubungan karena merasa diri tidak layak, yang dibuktikan dengan terjadinya konflik dalam hubungan.


Lalu, bagaimana cara mengatasi Imposter Syndrome yang ternyata merugikan itu? Simak tips berikut!

  • Pisahkan antara ranah fakta dengan ranah perasaan
  • Catat prestasi diri dan terus mengembangkan diri dengan sehat
  • Kurangi membandingkan diri dengan variabel pembanding yang berada di luar kendali kita, misalnya warna kulit dan hal-hal genetik lainnya
  • Meminta feedback orang lain atau psikolog mengenai penilaiannya terhadap diri kita.

Terus-terusan merasa tidak pantas dapat menghambat perkembangan diri sendiri maupun hubungan yang sedang dijalani. Akan tetapi, perasaan “tidak pantas” tetaplah valid untuk dirasakan. Terima dan proses perasaan tersebut dengan tetap melangkah mengembangkan diri. Perbaiki kekurangan dalam diri sendiri maupun hubungan yang masih berada dalam kendali diri dan belajar melepaskan variabel di luar kendali, misalnya penilaian orang lain dan hasil akhir dari suatu hubungan/usaha. Dengan menerima kelemahan yang tidak berada dalam kontrol diri, semoga kita bisa tidak mempermasalahkan penilaian orang lain atau menyalahkan diri atas konflik yang terjadi secara berlebihan. Tidak ada manusia yang sempurna dan kita diperbolehkan untuk berbuat kesalahan jika dibarengi dengan kemauan untuk memperbaikinya! (Rheandita Vella Aresta)

Referensi:
https://www.psychologytoday.com/us/basics/imposter-syndrome
https://psychcentral.com/blog/impostor-syndrome-in-relationships-when-you-feel-they-wont-love-you#recap
https://health.clevelandclinic.org/a-psychologist-explains-how-to-deal-with-imposter-syndrome/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *