Skip to content

Filosofi Teras untuk Hubungan yang Sehat

Mengenal Filosofi Teras
Istilah filosofi teras mulai sering disebutkan setelah penulis Henry Manampiring menuliskan dalam buku yang berjudul Filosofi Teras. Melalui buku tersebut dijelaskan bagaimana filosofi yang juga dikenal sebagai Stoisisme ini dicetuskan oleh filsuf Yunani bernama Zeno dan berfokus pada etika—tentang kebajikan dan ketenangan jiwa. Melalui Stoisisme, kita diajarkan untuk menerima kehidupan dengan lebih bijaksana dan tenang untuk mencapai kebahagiaan yang diinginkan.


Meski penerapan filosofi ini sudah ada sejak zaman sebelum masehi, nyatanya di kondisi saat ini yang serba instan dan menuntut kecepatan, Stoisisme menjadi cocok untuk diaplikasikan dalam kehidupan.

Stoisisme memiliki dua prinsip dasar yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melatih mental yang Tangguh dan jiwa yang lebih tenang:

Dikotomi kendali.

Prinsip ini mengajarkan manusia untuk berfokus pada hal-hal yang ada di dalam kendali kita dan mengesampingkan hal-hal yang berada di luar kendali. Dalam hal ini, yang dimaksud masih dalam kendali kita adalah bagaimana pikiran kita untuk memutuskan atau merespon sesuatu.

Indifferent.

Berkaitan dengan prinsip pertama, hal-hal yang berada di luar kendali kita pada dasarnya tidak akan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kebahagiaan atau kesengsaraan. Kondisi bahagia atau sengsara sendiri bisa datang karena pikiran kita sendiri.


Tidak hanya dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dua prinsip Stoisisme di atas juga bisa menjadi salah satu kunci untuk membangun hubungan yang sehat.

Menerapkan Stoisisme dalam Hubungan
Prinsip Stoisisme yang mengajak kita untuk fokus pada hal-hal yang berada di dalam kendali kita dapat diterapkan ketika kita menjalin hubungan dengan seseorang. Dalam hubungan, Stoisisme mengajarkan agar kita bisa menerima kondisi manusia dan batasan yang ditetapkan. Kita juga harus belajar memahami bahwa cinta juga bisa menyebabkan kekecewaan atau perasaan kehilangan, namun tanamkan dalam pikiran kita untuk fokus untuk memperbaiki apa yang bisa kita kontrol.


Dengan fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali, kita bisa fokus untuk memperbaiki kualitas diri dan juga menciptakan momen-momen yang hangat dengan pasangan. Hal ini tidak hanya baik untuk menciptakan hubungan yang sehat dan saling membangun, namun juga bisa membangun kepercayaan dengan pasangan. Ketika kita bisa lebih jujur pada diri sendiri, mengembangkan potensi diri, maka kita bisa menunjukkan versi terbaik bersama pasangan dan menularkan energi positif padanya.

Beda halnya jika kita mulai fokus pada hal-hal di luar kendali seperti mengontrol perilaku pasangan agar sesuai dengan kehendak kita atau melarang pertemanan pasangan dengan lawan jenis untuk menghindari perselingkuhan. Hal-hal tersebut tidak menyelesaikan masalah, malah membuat hubungan semakin runyam dan membuat kesehatan pikiran atau mentalmu semakin terganggu.

Selain mengajarkan nilai-nilai yang dapat diterapkan ketika kita terjalin dalam hubungan, Stoisisme juga mengajarkan bagaimana kita bisa lebih ikhlas ketika hubungan dengan pasangan telah selesai. Marcus Aurelius menjelaskan, hubungan yang tidak berlanjut atau putus cinta adalah bagian dari takdir yang berada di luar kontrol kita. Karena tidak bisa dikontrol, maka kita perlu bersiap dengan kenyataan bahwa menerima perasaan patah hati tersebut dengan lapang dada. Dengan melepaskan diri dan menyadari hal tersebut, kita juga bisa bijaksana ketika mencintai seseorang.

Manfaat Stoisisme dalam Jangka Panjang
Selain bisa membuat hubungan lebih sehat jiwa dan raga, Stoisisme bisa membuat seseorang menjadi lebih tenang serta mendahulukan kepala dingin dalam merespon permasalahan dalam hubungan. Kita bisa lebih fokus pada hal-hal yang ada dalam diri untuk membuat hubungan berjalan dengan baik dan bijaksana dalam berkomunikasi dengan pasangan. Pada dasarnya, pengendalian emosi dan pikiran adalah langkah awal untuk meraih kebahagiaan yang sejati. (Melisa N)

Referensi:
Daily Stoic. t.t. What the Stoic Thought About Love [daring]. Daily Stoic, Tersedia dalam https://dailystoic.com/stoicism-love/#:~:text=Focus%20on%20what%20is%20under,long%20as%20they%20are%20present. (Diakses pada 19 April 2022).
Manampiring, Henry. 2018. Filosofi Teras. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.2
Sadler, Gregory. 2018. Stoicism, Erotic Love, and Relationship [daring]. Modern Stoicism. Tersedia dalam https://modernstoicism.com/stoicism-erotic-love-and-relationships-by-greg-sadler/ (Diakses pada 19 April 2022).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *