Where Is The (Healthy) Love?

Pada suatu hari, ada seorang perempuan yang baru menyadari bahwa dia telah berubah menjadi orang yang salah. Pada awalnya, ia merasa bahwa kepribadiannya seperti Spongebob Squarepants, humoris, senang bergaul dan senantiasa positif. Tetapi saat ini, kepribadiannya lebih mirip dengan Squidward, apatis, malas, sedih dan senantiasa negatif. Setelah pemikiran yang mendalam, perempuan ini menyadari kalau kepribadian layaknya Squidward ini sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya. Saat ia masih menjalin hubungan romantis dengan mantan-mantan terdahulunya yang abusive. Lalu, perempuan ini pun heran, mengapa ia terus berada dalam hubungan yang abusive meskipun ia sendiri selalu bertekad untuk menjalin hubungan yang sehat? Sebenarnya ada di mana cinta sehat yang selalu ia dambakan?

Well, that woman is me, dan bisa juga kamu.

Attraction To The Trauma

Dengan mempelajari ilmu psikologi, kita dapat menjadi observer dari perilaku, pikiran dan emosi, sehingga munculah kesadaran akan pola hubungan romantis yang memiliki kerentanan seperti cenderung pasif dan selalu setuju dengan apa pun yang pasangan percayai. Sebenarnya terdapat banyak hal yang membuat aku (dan mungkin kamu serta banyak orang lainnya) terus terperangkap dalam hubungan yang abusive, meskipun dengan pasangan yang baru. Salah satunya adalah dikarenakan seringnya kita berada di hubungan romantis yang abusive, kita menormalisasi karakter tersebut dan mengaitkannya pada stereotype gender. Kita menjelaskan sebuah karakter abusive dari pasangan kita dengan generalisasi seperti “semua laki-laki pasti tidak bisa menahan godaan” atau “semua perempuan pasti cemburuan dan bawel”.

Alasan lain yang kemungkinan terjadi adalah kita sudah sering menerima perlakuan abusive dari orang tua kita, sehingga tanpa kita sadari, membuat kita memiliki keberhargaan diri yang rendah. Misalnya, jika seorang orang tua terus-menerus merendahkanmu dan memberitahumu bahwa kamu tidak mampu melakukan apapun, kamu mungkin tumbuh dengan rasa ragu akan kemampuanmu sendiri atau merasa tidak pantas untuk dicintai. Pola pikir ini terus berada di kepala kita layaknya software komputer yang tidak sengaja terdownload. Sehingga, ketika seorang pasangan mengirimkan pesan yang mirip dengan pesan yang dilontarkan oleh orang tuamu, kita menganggap bahwa pola ini sangatlah nyaman dan familiar.

Dengan pola pikir ini, harapan akan hubungan percintaan yang sehat akan sulit terwujud karena kita akan memilih hal pola yang terasa nyaman meskipun sebenarnya tidak menyehatkan. Kecenderungan ini bisa diumpamakan dengan makanan yang biasa kita konsumsi, apabila kita sudah sering makan makanan yang mengandung MSG, makanan natural tanpa MSG akan terasa hambar dan tidak menarik. Padahal ironisnya, makanan tanpa MSG adalah makanan yang sehat dan baik untuk tubuh kita. Namun, proses ini terjadi secara tidak sadar sehingga tanpa intervensi yang spot-on, sulit bagi kita untuk menemukan sumber dari permasalahan ini dan memperbaikinya.

Jadi, Apa Yang Harus Dilakukan?

Dalam kasus yang aku alami, aku tersadar akan pola yang selama ini terjadi dengan bantuan dari konselor dan ilmu psikologi yang aku dapatkan selama perkuliahan. Prosesnya terjadi selama beberapa tahun dan saat ini aku berada di hubungan yang jauh lebih sehat daripada hubungan yang sebelumnya. Apabila kamu baru saja mengakhiri hubungan yang abusive, kamu dapat mengambil waktu untuk healing dan berkonsultasi dengan psikolog atau konselor sebelum memulai hubungan yang baru. Dengan begitu, nantinya kamu pun bisa merasakan rasa aman dan cinta yang sehat. Meskipun hasilnya tidak akan instan, percayalah usaha tidak akan menghianati hasil. (Jesika Juliana)

Sumber:
Engel, B. (2003). The emotionally abusive relationship: How to stop being abused and how to stop abusing. John Wiley & Sons.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *