Victim Blaming Pada Kasus Kekerasan oleh Pasangan

Kondisi victim blaming  kerap kali membuat para penyintas kekerasan memilih untuk menyimpan masalah mereka  dan justru semakin terjebak dalam pola lingkaran kekerasan. Sementara dampak victim blaming bagi penyintas kekerasan tak bisa disepelekan. 
     Hingga kini, kekerasan oleh pasangan seakan menjadi masalah yang mengemuka. Terkadang stigma masyarakat tentang relasi gender juga ikut andil dalam penilaian mereka tentang kasus-kasus kekerasan oleh pasangan yang dialami oleh para penyintas kekerasan. Kalimat “Siapa suruh kamu menjalin relasi sama dia, siapa suruh kamu pasrah” seakan menjadi kalimat yang mudah diucapkan setiap kali para penyintas kekerasan mencoba menceritakan apa yang mereka alami. Kondisi victim blaming tersebut kerap kali membuat para penyintas kekerasan memilih untuk menyimpan masalah mereka sendiri dan justru semakin terjebak dalam pola lingkaran kekerasan.
      Dampak victim blaming tak bisa disepelekan. Berikut ini adalah berbagai dampak yang dapat dirasakan oleh penyintas kekerasan oleh pasangan akibat kondisi victim blaming.
     Menutup diri
   Akibat yang paling sering dijumpai ketika penyintas kekerasan mengalami victim blaming adalah pilihan mereka untuk menutup diri. Mereka akan memilih diam ketimbang menceritakan permasalahan mereka karena khawatir disalahkan.
     Trauma
  Seseorang yang mengalami kekerasan berpotensi untuk mengalami trauma yang mendalam. Trauma itu dapat timbul dari ketidakberdayaan kita dalam menghadapi pola kekerasan. Dampak yang terlihat adalah penyintas bisa saja memilih menghindar,  membatasi diri bahkan justru benci dengan dirinya sendiri.
      Bertindak negatif
    Kekerasan juga berpotensi membuat penyintas menjadi cenderung apatis atau tidak peduli dengan keadaan sekitar. Mereka dapat terus menerus mengasihani diri sendiri. Lebih jauh, terdapat potensi bagi penyintas kekerasan untuk mencari jalan keluar dengan mengkonsumsi obat-obatan dan bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup.
​    Meskipun begitu, bukan berarti kita hanya dapat berdiam diri atas kondisi tersebut. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk memutus perilaku victim blaming. Livia Iskandar, yang merupakan psikolog dari lembaga konsultasi Pulih @the Peak seperti dilansir dari laman magdalene.co, dalam artikel yang berjudul ‘Menjadi Teman Korban Kekerasan’, ada berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk membantu para penyintas kekerasan:
     Tunjukan rasa peduli
   Sebagai teman penyintas kekerasan, kita harus bisa menunjukkan sikap empati  terhadap penyintas.
      Tidak mengomentari atau menghakimi penyintas kekerasan
    Mungkin cerita penyintas membuat kita merasa gemas atau ikut marah atas tindakannya. Tahan diri kita agar tidak mengomentari atau menghakimi keadaan tersebut. Hal tersebut dapat menyebabkan penyintas menjadi defensif dan malah menutup diri.
     Ajak menemui pihak professional
   Jika masalah kekerasan sudah berlarut-larut. Kita bisa mendukung para penyintas kekerasan dengan menawarkan pihak profesional untuk membantu masalah mereka.
      Demikian informasi terkait kondisi victim blaming dalam kasus kekerasan oleh pasangan. Semoga kita dapat menjadi bagian dari upaya memutus rantai perilaku victim blaming pada penyintas kekerasan, ya!
(Birgita Nurregina)

Daftar Referensi:
https://www.psychologytoday.com/intl/blog/talking-about-trauma/201307/victim-blame-difficult-attitude-change?amp
https://health.usnews.com/wellness/articles/2016-04-19/the-psychological-impact-of-victim-blaming-and-how-to-stop-it?context=amp
https://magdalene.co/news-1642-menjadi-teman-korban-kekerasan-dalam-pacaran.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *