Menikah: ​Haruskah Buru-Buru?

    Sebelum kita membahas lebih jauh tentang pernikahan, kita harus mengetahui terlebih dahulu konsep pernikahan yang ideal. Menurut narasumber HelpNona, pernikahan adalah penyatuan antara 2 manusia yang didasarkan oleh cinta. Tentu saja, tidak cukup untuk membangun pernikahan dengan hanya sekedar cinta saja. Pernikahan juga membutuhkan komitmen dan keinginan untuk menerima satu sama lain. Pernikahan yang hanya didasarkan oleh romansa semata, bukanlah pernikahan yang ideal. Seharusnya, porsi cinta dan komitmen perlu menjadi perpaduan penting. Lalu, faktor apa sih yang sebenarnya membuat para perempuan ingin sesegera mungkin menikah?

    Mari simak poin-poin di bawah ini!
    Umur
  Apabila sudah menginjak kepala 2, apalagi pertengahan umur 20, ada banyak perempuan rasanya sudah ingin segera  menikah. Rasanya, lulus kuliah sudah, mendapatkan  pekerjaan juga sudah, dapet suaminya kapan? Duh!
    Keluarga
 “Kapan nikah?” adalah pertanyaan yang membuat telinga kita gatal  saat mengikuti pertemuan keluarga besar. Saking seringnya ditanya pertanyaan semacam itu, kita jadi semakin merasakan pressure untuk cepat-cepat menikah. Ada yang punya pengalaman seperti itu?
   Teman
  Melihat teman yang di sini, baru lahiran anak pertama. Melihat teman yang di sana, lagi honeymoon di Bali. Melihat teman sendiri sudah pada menikah, rasanya kita yang belum sampai fase itu seperti tertinggal. Duh, memangnya benar kita tertinggal dari yang lain hanya karena memiliki fase yang berbeda? Rasanya enggak, ya..
​    Nah, kalau sudah terkena pressure untuk cepat-cepat menikah, apa yang harus kita lakukan? Well, apa pun yang didengar oleh kanan-kiri, dan dilihat dari sekeliling, jangan terlalu dipikirkan atau dimasukkan ke hati. Keputusan untuk menikah ada di tanganmu, bukan tangan mereka. Jadi, buat apa buru-buru?
   Panggil saja Langit, ia sering sekali di-pressure oleh orang tuanya untuk cepat menikah dan menjadi ibu rumah tangga . Meskipun ada pressure dari mana-mana, Langit mengaku bahwa dia tidak terpengaruh dengan ucapan orang-orang dan tetap ingin selesai kuliah terlebih dahulu sebelum memikirkan soal pernikahan. Saat ditanya mengenai bagaimana cara Langit mengatasi berbagai tekanan untuk cepat menikah, Langit menjawab bahwa pernikahan merupakan hal yang besar dan tidak main-main. Masa iya, kita mau pernikahan kita ditentukan oleh sekedar omongan dari orang lain?
   ​Selain itu, ada pula beberapa alasan yang dapat kamu jadikan sebagai bahan pertimbangan sebelum memutuskan untuk menikah muda. Simak lebih lebih lanjut ya!
 
   Pertimbangan biologis
  Did you know? Perempuan yang belum mencapai umur 18 tahun, maka organ reproduksinya belum benar-benar matang. Maka apabila kamu menikah muda dan kemudian hamil, maka akan memiliki resiko kerentanan tersendiri.
   Emosi yang belum stabil
 Memang sih, banyak orang yang berpendapat bahwa umur bukanlah penentu tingkat kedewasaan seseorang. Akan tetapi, tidak bisa disangkal bahwa umur memanglah salah suatu faktor yang mempengaruhi tingkat kestabilan emosi seorang manusia. Apalagi, diakui bahwa memang ada korelasi antara banyaknya pernikahan muda dan tingginya angka perceraian. Bukannya mengatakan bahwa menikah muda pasti berakhir dengan perceraian, tetapi kemungkinan untuk bercerai itu ada, karena kamu masih belum bisa stabil secara emosi dan menyelesaikan masalah dengan dewasa.
   Besarnya tanggung jawab
  Dengan menikah muda, kita tidak boleh lupa bahwa kita sudah tidak lagi hanya memikirkan diri kita sendiri. Kita harus juga memikirkan suami kita, beserta anak kita nantinya.
    Pertimbangan pendidikan dan karier
  Apabila menikah muda, maka waktu kalian otomatis akan semakin berkurang karena perlu mendedikasikan waktu untuk suami dan anak. Waktu yang akan digunakan untuk mengejar pendidikan ataupun karier pasti akan berkurang. Oleh karena itu, puas-puaskan mengejar karier dan pendidikan saat masih enak-enaknya single dan bebas mengejar impian. Memang, tidak melepas dari kemungkinan bahwa perempuan masih bisa mengejar pendidikan dan karir selagi di dalam hubungan pernikahan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa akan lebih susah menggapai impian tersebut, karena waktu kita sudah tidak sebanyak saat kita melajang.
​   Nah, apabila kamu sudah membaca dan mempertimbangkan baik-baik poin di atas, maka keputusan ada di tanganmu. HelpNona selalu mendukungmu untuk #BertuturBerani!
(Jennifer Elim)
Narasumber: 
1. Agnes Maria Sumargi, M. Psych.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *