Menghadapi Rasa Trauma

     Sebagai manusia yang tidak sempurna, tentu kita tidak dapat menghindari berbagai macam emosi seperti sedih, marah, khawatir, dan trauma. Nah, di dalam suatu hubungan personal, perlu kita camkan bahwa it takes two to tango. Butuh kerja dua orang untuk menghidupkan hubungan tersebut. Setiap ada konflik atau uneasy feeling di dalam hati, kita perlu merenungkan satu hal ini: apakah kita telah menyampaikan kepada orang tersebut hal yang membuat kita tidak nyaman?
   Lalu bagaimana dengan kita yang memiliki keraguan dan trauma karena memiliki pengalaman pahit dalm suatu hubungan?
    Yuk, buang jauh-jauh pemikiran stereotype bahwa semua hubungan itu akan sama. Yakini bahwa ada laki-laki yang sama baiknya untuk kita, dan tidak apa jika sekarang kita belum menemukannya.  Jika ketidakpercayaan tersebut tumbuh dan berujung kepada sifat menutup diri juga pasif, hal tersebut dapat memengaruhi jiwa kita sendiri menjadi jiwa yang tidak sehat. Perlu kita yakini bahwa konflik di dalam suatu hubungan adalah hal wajar, dan terkadang sungguh diperlukan. Kita tidak dapat menghindari konflik dan perbedaan, tetapi kita bisa belajar untuk menerima.
    Rasa marah, sedih, dan khawatir pasti akan kita rasakan di dalam proses kehidupan. Namun kita dapat mempelajari bagaimana cara mengatasi hal tersebut agar tidak berkepanjangan dan membuat rasa sedih tersebut berdampak positif terhadap kita. Ternyata emosi tersebut dapat membentuk kepribadian kita menjadi lebih dewasa—tentu saja jika kita mengatasinya dengan cara yang tepat. Bergaul dengan lingkungan positif dan reach out ke orang-orang yang menjadi support system kita setiap kali kita memiliki masalah. Tidak masalah, lho, untuk membuka diri serta berani mengungkapkan perihal sesuatu yang mengganggu kita. Dari orang lain kita dapat melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, sehingga kita dapat belajar untuk menuntun serta menata hati kembali, juga memilah apa keputusan yang kita akan ambil. Selain itu, menyalurkan emosi yang kita rasakan dengan menulis atau melukis  atau hal positif lainnya juga langkah tepat yang dapat kita lakukan. Tidak dapat disangka, kan, bahwa rasa sedih juga ternyata dapat mendorong kita untuk menuai prestasi?
    Perbanyak aktivitas dan kegiatan dapat membuat kita lupa bahwa sebenarnya hari ini aku sedang ada masalah. Perasaan sedih tersebut dapat tersisihkan karena aktivitas yang bahkan membuat kita lupa bahwa sesungguhnya kita sedang merasa down. Langkah ini dapat dilakukan oleh kita yang baru saja mengakhiri suatu hubungan. Terkadang memori akan seseorang tidak lepas begitu saja bahkan tinggal dalam rentang waktu yang cukup lama, dan memperbanyak kegiatan dapat membuat kita setidaknya tidak berlarut dalam kesedihan terlalu lama.
  Setiap individu memiliki caranya masing-masing untuk menghibur diri. Liburan, mendengarkan musik, belanja, atau berolahraga—jangan lupa bahwa penghiburan diri itu penting. Lakukan hal yang ingin kamu lakukan, yang sekiranya dapat membuatmu merasa senang dan bahagia. Kemudian jika keadaan sudah seimbang, mari lakukan refleksi diri.
    Di atas segalanya, meyakini diri sendiri dan menerimanya menjadi kunci utama. Aku boleh sedih, dan mungkin hari ini aku sedang dalam kondisi tidak bahagia, tetapi hidupku harus terus berlanjut. Jangan lupa terhadap mimpi-mimpi yang menunggu untuk diraih. Sesungguhnya rasa sedih, khawatir, marah, trauma—dan perasaan pahit lainnya setiap hubungan berakhir adalah proses dari pembelajaran dan dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih siap jika keadaan pahit tersebut kembali terjadi.
    Yuk berteman dengan hati, peluk hati kita, pahami, dan belajar mengenang tanpa rasa sakit.
    (Shafira Oktav)
Narasumber:
Dr Livia Iskandar M.Sc
Pulih@ThePeak Women & Family Empowerment Center

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *