Mendokumentasikan Kekerasan

    Pernahkah kamu berpikir untuk mendokumentasikan kekerasan yang kamu alami sebagai bukti di kemudian hari? Awalnya mungkin kamu berpikir untuk ‘memaafkan’ kekerasan yang dilakukan pasangan kepadamu, tapi bagaimana jika suatu saat kamu berubah pikiran dan ingin mengambil langkah atas pengalaman kekerasan yang kamu alami? Atau, bagaimana bila eskalasi kekerasan yang dilakukan pasangan kepadamu semakin meningkat?    Maka, jangan sepelekan upaya mendokumentasikan bentuk kekerasan yang pernah kamu alami. Tujuannya tentu agar kamu bisa mencegah kekerasan selanjutnya terjadi. Ini juga bentuk upaya preventif  jika suatu hari kamu memutuskan untuk lapor ke aparat berwajib.

    Apa saja hal yang perlu diperhatikan jika ingin mendokumentasikan kekerasan yang kamu alami?
Catat Hal-Hal Penting
Catat hal penting berisi pengalaman kekerasan yang kamu alami. Isinya bisa berupa detil kejadian, kronologis jelas, siapa saksinya, waktu dan tempat kejadian, hingga deskripsi luka yang kamu alami. Semakin detil, semakin baik. Tulislah dari awal penyebab kejadian hingga dokumentasi bukti yang ada. Susun dengan rapi dan jika perlu buat duplikatnya dalam bentuk soft copy dan hardcopy.
Dokumentasikan Dalam Bentuk Foto / Video / Suara
Jangan lupa ambil foto yang menunjukkan kejadian tersebut, seperti luka sesaat setelah kejadian, atau keadaan sekitar yang berantakan setelah kamu bertengkar. Simpan foto di beberapa tempat sekaligus. Misalnya, di handphone, laptop, flashdisc, kirim ke email, dan cetak. Bukti lain seperti rekaman suara atau video saat kejadian akan sangat memudahkan pihak berwajib untuk memproses laporanmu. Sekali lagi, jangan lupa untuk membuat duplikatnya via email, memori external, atau burn dalam bentuk DVD.
Mendokumentasikan Itikad?
Sering kali pembuktian kasus kekerasan dalam pacaran akan sangat terbantu apabila ada bukti-bukti itikad yang sebelumnya ditunjukan pelaku. Misalnya saja bukti pertemuan keluarga atau bahkan desain undangan pernikahan untuk kasus janji palsu akan dinikahi.
Bukti Digital Juga Bisa Didokumentasikan
Jika pasanganmu melakukan kekerasan berbasis siber, jangan sungkan untuk meng-screenshot bukti tersebut dan kemudian mengeprintnya. Pastikan bahwa bukti tersebut juga mencantumkan siapa pengirim, penerima dan waktu kamu menerima pesan. Jika ingin lebih detail, kamu bisa foto layar handphone / notebook beserta pesan yang ditampilkan. Kemudian, jika ancaman dilakukan via telepon, print bukti contact log di handphone.
Jangan Takut Untuk Mengakses Layanan Kesehatan
Carilah layanan kesehatan yang bisa memberikan layanan kesehatan jika kamu mengalami luka. Simpan bukti kedatanganmu ke dokter beserta akses rekam medisnya. Siapa tahu keterangan dari dokter akan jadi bukti yang berguna.
Memutuskan Lapor Ke Polisi
Jika memang kamu memutuskan untuk lapor ke polisi, bawalah semua bukti yang telah kamu persiapkan dan bersiaplah jika diminta melakukan visum.
    Dalam diskusi HelpNona dengan Lembaga Bantuan Hukum APIK  Jakarta, dijelaskan pula tentang proses pendokumentasian kasus yang biasanya masuk ke LBH APIK Jakarta. Proses pendokumentasian kasus yang masuk dimulai dengan sesi konsultasi hukum, termasuk upaya penguatan untuk penyintasnya. Selain itu bukti-bukti yang selama ini kamu dokumentasikan akan sangat berguna apabila kamu memutuskan untuk memproses kasus yang tengah kamu hadapi ke ranah litigasi ataupun non litigasi.  Apa pun keputusanmu,  pastikan bahwa kamu siap berdaya untuk  mengentas kekerasan yang ada.  Semangat!
Referensi:
Loveisrespect : Project of Break the Cycle & The National Domestic Violence Hotline USA, 
http://www.loveisrespect.org/pdf/Documenting_Abuse.pdf
 
Narasumber;
Ummi Habsyah S.H
 
Source Partner:
Lembaga Bantuan Hukum APIK Jakarta
Special thanks to Ibu Ratna Batara Munti & Ibu Tari LBH APIK Jakarta
www.lbh-apik.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *