Kesehatan dan Kekerasan oleh Pasangan

 
“Kekerasan oleh pasangan sangat penting diidentifikasi mengingat hal ini dapat menyebabkan dampak serius pada fisik mau pun mental.  Biasanya kekerasan yang terjadi makin lama makin meningkat dibanding pertama kali kekerasan dilakukan. Misal , awalnya pelaku menampar pipi, lalu korban diam dan tidak melakukan apa-apa. Maka ada kemungkinan pelaku akan meningkatkan intensitas kekerasan menjadi menonjok muka.”
– dr Ratih Purwarini –
Dokter
     Nah, menurutmu apakah relasi yang gak sehat bisa mempengaruhi kesehatan? Percaya atau tidak, ternyata terpapar terlalu lama dalam hubungan yang penuh kekerasan bisa mempengaruhi kesehatan, loh. Misalnya saja menurut jurnal ilmiah milik Foshee VA & McNaughton Reyes HL mengenai kekerasan oleh pasangan  dan hubungannya dengan kesehatan:
Youth who are victims of dating violence are more likely to experience symptoms of depression and anxiety, engage in unhealthy behaviors, like using tobacco, drugs, and alcohol, or exhibit antisocial behaviors and think about suicide.
      Makanya, gak aneh kalau isu kekerasan oleh pasangan ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan kesehatan. Soalnya, kekerasan oleh pasangan  adalah isu kompleks yang punya efek samping jangka pendek dan jangka panjang sekaligus. Mulai dari segi psikologis, kesehatan, sampai kesehatan reproduksi. Sebenarnya, apa saja sih dampak fisik yang terjadi apabila kamu terus menerus mengalami kekerasan oleh pasangan? HelpNona Expert, dr Ratih Purwarini, akan menjelaskan hubungan kekerasan oleh pasangan dengan dampaknya pada kesehatan.
Dampak Kesehatan Fisik
  1. Luka-luka : Bisa terjadi dari skala ringan hingga berat. Seperti memar, luka robek dan lain-lain. Bila ringan biasanya tidak meninggalkan bekas atau cacat. Pelaku biasanya memiliki kecenderungan melakukan kekerasan pada bagian-bagian tubuh yang terlihat agar korban malu dan makin terikat pada pelaku.
  2. Kerusakan organ dalam dan patah tulang ( fraktur ) : Terjadi  bila pelaku memukul atau menendang dengan kuat atau bahkan menggunakan alat tambahan ( kursi, tongkat dll )
  3. Perubahan gaya hidup yang merusak kesehatan : Contohnya seperti  merokok, minum alkohol atau bahkan penyalah gunaan obat terlarang. Hal ini dilakukan karena korban mencari jalan keluar yang pintas untuk tekanan psikisnya .
  4. Penyakit Menular Seksual : Contohnya seperti  gonnorhea, HIV AIDS, Hepatitis, Syphilis, Herpes dan Infeksi HPV ( penyebab kanker serviks ). Tahukah kamu bahwa beberapa dari penyakit ini bisa diobati, tetapi ada yang dapat mengakibatkan sakit berat karena belum ada obatnya seperti HIV AIDS, hepatitis dan kanker serviks?
  5. Gangguan hormon kortisol : Saat kamu stresss, tubuh  akan mengeluarkan hormon kortisol. Jika sudah begitu, jantung, otot akan bekerja lebih cepat. Efeknya, bisa terjadi peningkatan tekanan darah dan bila hal ini terus menerus terjadi, bisa terjadi gangguan tidur, kecemasan sampai penyakit jantung dan stroke! Wah, seram juga, ya?
Dampak  Kesehatan Psikis
  1. Disordered eating behaviors : Dalam sebuah survey di Amerika Serikat, siswa kelas 1 sampai 3 SMA di Minnesota yang mengalami kekerasan oleh pasangan kerap menggunakan berbagai cara untuk menurunkan berat badannya. They used laxatives, diet pills, vomiting, fasting, or binge eating to control their weight.’[1] Menurut Ackard, Eisenberg, dan Neumark-Sztainer, fenomena ini ada kaitannya dengan upaya korban untuk ‘menghukum’ dirinya sendiri atas kekerasan yang mereka alami.
  2. Depresi / kelainan jiwa berat : Berdasarkan penelitian, perempuan yang mengalami kekerasan akan 3 kali lebih besar kemungkinan mengalami kelainan jiwa berat dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami kekerasan. Bahkan , kemungkinan itu bisa menjadi lebih besar lagi apabila sebelumnya perempuan tersebut mengalami kekerasan pada saat masih kecil ( childhood abuse). Hmm.. miris banget ya?
  3. Bunuh diri : Gak jarang korban akhirnya memutuskan untuk mengakiri hidup karena tidak mendapatkan pertolongan atas kekerasan yang terjadi padanya. Apalagi kalau korban  tidak memiliki tempat untuk berbicara karena biasanya pelaku akan melarang pasangannya untuk memiliki teman, sahabat bahkan tidak diperkenankan dekat dengan keluarga.
 
[1] Ackard, D.M., Eisenberg M.E., & Neumark-Sztainer, D. (2002). Date violence and date rape among adolescents: Associations with disordered eating behaviors and psychological health. Child Abuse & Neglect, 455-473.
 
 
Referensi:
Foshee VA, McNaughton Reyes HL, Gottfredson NC, Chang LY, Ennett ST. A longitudinal examination of psychological, behavioral, academic, and relationship consequences of dating abuse victimization among a primarily rural sample of adolescents. Journal of Adolescent Health 2013; Hlm 723-729.
Isabelle Ouellet-Morin, Helen L. Fisher, Marianna York-Smith, Stephanie Fincham-Campbell, Terrie E. Moffitt, Louise Arseneault. INTIMATE PARTNER VIOLENCE AND NEW-ONSET DEPRESSION: A LONGITUDINAL STUDY OF WOMEN’S CHILDHOOD AND ADULT HISTORIES OF ABUSE. Depression and Anxiety, 2015
Michael Randall, Dartmouth Undergraduate Journal of Science, The Physiology ofstress : Cortisol and the Hypotalamic-Pituitary-Adrenal axis, 2011
Ackard, D.M., Eisenberg M.E., & Neumark-Sztainer, D. (2002). Date violence and date rape among adolescents: Associations with disordered eating behaviors and psychological health. Child Abuse & Neglect, 455-473.
 
Narasumber;
dr Ratih Purwarini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *