Kekerasan Fisik

 
Kekerasan fisik dalam hubungan romantis berkaitan dengan kultur dan pola pikir yang ada di masyarakat. Tidak jarang dalam relasi romantis seseorang menganggap bahwa pasangan adalah ‘miliknya’ . Dengan konsep seperti itu, seorang pelaku menempatkan pasangannya seperti properti kepunyaan yang harus menurut. Jika tidak, bentuk kekerasan fisik dapat terjadi.
– Catatan Tahunan LBH APIK Jakarta 2015-
Tahukah kamu bahwa salah satu bentuk kekerasan oleh pasangan adalah kekerasan fisik?
Menurut penjelasan Wekerle & Wolfe, 1999, kekerasan oleh pasangan bermakna “… to control or dominate another person physically, sexually, or psychologically, causing some level of harm”. Ingin tahu lebih lanjut tentang ini?
Bentuk?
Memukul, menendang, mendorong, menonjok, menampar, mencekik, melempar benda, mengancam dengan benda tajam, hingga mengabaikan kebutuhan kesehatan saat  sakit atau terluka.
Dampak?
Akibat dari bagian tubuh yang terkena sasaran tindak kekerasan fisik, dapat merupakan kondisi permanen (cacat), mau pun tidak permanen (luka, lebam).
Apa yang harus saya lakukan jika mengalaminya?
Hal pertama yang harus kita sadari adalah bahwa kita tidak bersalah. Kekerasan yang terjadi padamu adalah murni kesalahan pelaku. Selanjutnya kamu bisa bercerita pada orang yang dipercaya, seperti, keluarga, kawan, atau NGO LSM terkait.
Pahamilah bahwa sesungguhnya kamu dapat mengakses bentuk layanan sebagai berikut:
 
1. Mendokumentasikan dan Melaporkan
Unit Pelayanan Perempuan & Anak (UPPA) di Polda atau Polres terdekat
2. Layanan Psikologis
Layanan berupa pendampingan dan konseling yang dapat memberikan kenyamanan bagi korban untuk menyampaikan masalahnya.
 
3. Layanan Pendampingan Hukum
Layanan yang berkaitan dengan materi hukum yang berlaku dan tata cara peradilan yang ada di Indonesia. Termasuk juga cakupan dukungan litigasi dan non litigasi.
4. Layanan Medik
Layanan berupa perawatan fisik dan pengobatan atau penyembuhan luka fisik yang disebabkan oleh tindak kekerasan. Selain itu juga memberikan rekam medis seperti visum e repertum yang dapat dijadikan bukti di pengadilan, misalnya saja di RSUD terdekat.
5. Layanan Rumah Aman
Layanan rumah aman dapat mencakup pelatihan keterampilan, konseling, dan kegiatan lainnya yang bisa memulihkan korban.
6. Layanan Terpadu
Layanan yang diberikan kepada perempuan korban kekerasan yang memadukan multi disiplin ilmu dan menggunakan pendekatan yang holistik. Biasanya mencakup layanan hukum, medik, dan psikologis.
 
Saya dipukul oleh pasangan hingga luka-luka dan lebam. Apakah ini bisa dilaporkan ke polisi?
Ya, korban dapat melaporkan langsung ke polisi, namun baiknya minta pendampingan ke lembaga bantuan hukum perempuan pula, seperti ke lembaga bantuan hukum dan P2TP2A terdekat. Sebelum melaporkan, kamu diharapkan sudah mendapatkan konseling dan penguatan psikologis untuk bisa mengahadapi polisi saat dilakukan BAP( Berita Acara Pemeriksaan). Selain itu, kesiapan fisik amat diperlukan untuk melakukan visum karena akan melewati proses pemeriksaan dalam waktu yang lama dari kantor polisi ke rumah sakit untuk visum lalu kembali lagi ke kantor polisi untuk BAP. Tapi kamu tidak perlu takut, ya. Sebab itulah perlunya pendamping hukum bagi korban dan bisa dilakukan oleh pengacara maupun paralegal.
Ummi Habsyah S.H.
Pendamping Hukum
 
 
Referensi:
1 Wekerle, C., & Wolfe, D. A. (1999). Dating violence in mid-adolescence: Theory, significance, and emerging prevention initiatives. Clinical Psychology Review
2 Buku Standard Operation Procedure Sistem Penerimaan Pengaduan Komnas Perempuan, 2011
3. http://ecpatindonesia.org/en/news/rpswpskw-solusi-rumah-aman-untuk-anak-korban-eksploitasi-seksual/
http://loveisrespect.org
 
Source Partner:
Lembaga Bantuan Hukum APIK Jakarta
Special thanks to Ibu Ratna Batara Munti & Ibu Tari
http://www.lbh-apik.or.id/
 
Narasumber:
Ummi Habsyah S.H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *