Conflict Resolution

 

 

Tanda relasi yang sehat bukan berarti tidak ada konflik sama sekali, tetapi justru ketika konflik muncul, kamu dan pasangan secara bersama saling mengusahakan bagaimana mengatasi konflik tersebut.
– Astrid Wen M.Psi –
 
 
 
     Pernah berdebat sama pasangan karena beda selera film atau musik? Well, kabar baiknya hubungan mana pun pasti pernah mengalami perbedaan. Kalau sudah begini, verbal disagreements dan arguments pasti susah dihindari. Sebenarnya, gak sepakat sama pasangan bukan selalu hal yang buruk. After all, kita berhak punya pendapat, selera, harapan, dan pemikiran masing-masing, ‘kan?
 
     Menurut psikolog Astrid Wen M.Psi, setiap konflik yang bisa diatasi dengan baik oleh kita dan pasangan akan semakin mendekatkan kalian, loh. Soalnya kita dan pasangan jadi semakin tahu hal-hal apa saja yang bisa mengakibatkan konflik, apa perasaan masing-masing mengenai hal tersebut, apa yang terbaik buat kita serta pasangan, dan mungkin buat orang lain yang terlibat. Kalian akan semakin mengenal diri dan mengembangkan komunikasi yang baik di antara kita dan pasangan
 
    Masih menurut para ahli, perempuan juga dianggap lebih kooperatif loh saat ada perbedaan dalam hubungan.  Misalnya nih menurut Collins, N. & Read, S. dalam jurnalnya yang berjudul ‘Adult Attachment, Working Models, and Relationship Quality in Dating Couples’  ,
 
     Masyarakat umumnya sudah memiliki stereotipe bahwa perempuan memiliki sifat alamiah yang feminin, lemah lembut, considerate, dan membebankan inisiatif penyelesaian masalah pada perempuan as a ‘problem-fîxers’. Pada banyak perempuan, adalah tugas mereka untuk approach pasangannya duluan untuk menyelesaikan masalah yang ada, juga untuk mengajak pasangannya sama-sama berdiskusi. Bahkan menurut Gottman J pada jurnalnya yang berjudul ‘Predicting The Longitudinal Course of Marriages In Addition’ , perempuan kerap dianggap lebih tidak powerful dalam hubungan sehingga tidak punya banyak pilihan kecuali memilih menyesuaikan dengan perbedaan yang ada.
 
    Nah meski pandai berkompromi adalah kualitas yang oke banget dalam suatu hubungan yang sehat, tapi ada juga loh kekhawatiran kalau hubungan jadi gak seimbang karena salah satu di antaranya selalu mengalah.
 
 
       Dalam hubungan yang sehat, komunikasi harus jadi yang utama. Ketika itu sudah dilakukan, hubunganmu pun pasti akan semakin berkembang dengan baik, soalnya kalian jadi lebih mengenal satu sama lain. Makanya, berbeda itu gak selamanya buruk, malah bisa jadi sebuah kesempatan saling mengenal. Selama diskusi dilakukan dengan jujur, berimbang dan terbuka, punya masalah ternyata bisa jadi hal yang baik. Menurut ahli Reis H. T. & Shaver P dalam jurnalnya yang bertajuk ‘Intimacy as an Interpersonal Process’ ,
 
‘ Disagreements allow partners to express personal thoughts and feelings, which may lead to greater feelings of intimacy.’ 
 
       Apabila interaksi dalam sebuah perbedaan benar-benar diselesaikan dengan terbuka, justru setelahnya pasangan akan menjadi semakin dekat.
 
        Tapi ingat, meski suatu konflik punya sisi positif dan normal terjadi pada setiap hubungan, ini bisa juga menjadi pertanda bahwa hubunganmu memliki masalah yang krusial, loh. Untuk mengatasinya, yuk kita intip cara-cara mengatasi masalah tanpa masalah:
 
 
      Respect
   Bahkan dalam perdebatan sekali pun, kamu dan pasangan tidak bisa beradu pendapat dengan saling membentak atau memaki. Saling mengingatkan perlu dilakukan jika sudah kelewatan, namun bila itu terus terjadi, lebih baik salah satu dari kamu dan pasangan menyingkir terlebih dahulu.
 
      Pahami Akar Masalah
    Umumnya, perdebatan bisa menjadi panjang lebar dan melenceng jauh dari permasalahan awal. Misalnya, kamu kesal karena pasanganmu selalu memilih tempat makan untuk  kalian. Sebenarnya, kamu ingin diberi kesempatan untuk memilih dan didengar dalam hubungan. Namun, karena kalian sudah keburu adu argumen sana sini, perdebatan bisa sampai mengungkit masalah kalian tahun lalu! Hmm, tarik nafas dan coba pahami akar masalahnya. Lupakan permasalahan lain yang sudah berlalu.
 
      Abaikan selama beberapa waktu
  Jika konflik ini cukup penting, mengabaikannya selama 1 atau 2 hari tentu tidak akan membuat masalah hilang. Sebaliknya, jika rasa kesal hilang dengan cepat, bisa jadi masalah ini tidak terlalu penting untuk diperdebatkan.
 
      Bersepakat
   Kesepakatan juga kata kunci penting dalam suatu hubungan. Kesepakatan di sini tentu kesepakatan seimbang dan bukan hanya dilakukan oleh salah satu pihak saja. Kedua belah pihak harus merasa puas dengan jalan tengah yang ditentukan.
 
      Agree to Disagree
    You can’t agree on everything. Butuh kedewasaan untuk menerima perbedaan yang ada dan tidak merasa kesal sendiri dalam hati. Pun jika kamu merasa masalah ini terlalu mengganggu untuk dibiarkan, berarti kamu tahu bahwa kalian berdua memang tidak bisa terus bersama.
 
       Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah
  Di akhir pembicaraan, ada baiknya kamu melihat konflik ini secara keseluruhan. Pertimbangkan dengan matang, is this issue really important? Apa ini mempengaruhi dinamika kalian? Mengusik moral dan value yang kita pegang? Apakah ini membuat kamu semakin dekat dengannya, atau semakin jauh? Jangan-jangan justru ini ajang untuk kita introspeksi diri? Jadikan momen ini sebagai pembelajaran yang menyelesaikan. Bukan awal dari masalah yang kemudian akan berulang lagi ke depannya. Pelajari pula langkah untuk berkomunikasi dengan baik di sini. Nah, jika kamu merasa konflik yang kamu hadapi terus berulang. Bisa jadi ada pertimbangan yang harus kamu pikirkan.
 
(Nike Nadia)

 

Referensi:
Gottman J. M. Predicting the longitudinal course of marriages. Journal of Marital and Fanulv Therapv. 1991. hlm 3-7.
[1] Reis, H. T., & Shaver, P.. Intimacy as an interpersonal process. In S. W. Duck (Ed.), Handbook of personal relationships. Chichester, England: Wiley, 1988 
 
Narasumber artikel:
Astrid Wen M.Psi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *